Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5,6 hingga 6 persen sepanjang 2026 meski perekonomian global masih diwarnai berbagai tantangan.
Ketua KSSK sekaligus Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan ekonomi nasional diperkirakan tetap tumbuh kuat pada triwulan II 2026 di tengah ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, dan volatilitas pasar keuangan. Menurutnya, ketahanan ekonomi domestik menjadi modal penting untuk menghadapi tekanan dari luar negeri. Optimisme tersebut didukung oleh berbagai indikator yang menunjukkan kondisi ekonomi nasional masih relatif stabil.
Konsumsi rumah tangga diproyeksikan tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun. Purbaya menjelaskan daya beli masyarakat masih terjaga berkat peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam gejolak ekonomi melalui program perlindungan sosial, subsidi, stabilisasi harga pangan dan energi, serta penciptaan lapangan kerja.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai stimulus, termasuk pada periode libur sekolah, untuk menjaga tingkat konsumsi masyarakat. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu mempertahankan aktivitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Selain konsumsi rumah tangga, investasi dan belanja pemerintah diperkirakan menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional. Investasi didorong oleh proyek hilirisasi yang menciptakan nilai tambah serta pembangunan infrastruktur dalam berbagai program prioritas pemerintah.
Di sisi lain, percepatan belanja negara, pembayaran gaji ke-13 aparatur sipil negara, dan penyaluran bantuan sosial diproyeksikan meningkatkan perputaran uang serta memperkuat daya beli masyarakat. Kombinasi berbagai faktor tersebut diharapkan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.
KSSK juga mencatat adanya perbaikan pada sektor manufaktur setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia kembali naik ke level 50,2 pada Juli 2026. Capaian di atas angka 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi dan mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi serta optimisme pelaku usaha. Dengan dukungan konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan pemulihan sektor industri, KSSK optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,6 hingga 6 persen dapat tercapai.
Ke depan, koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Alexander Jason – Redaksi

