Badan Gizi Nasional (BGN) mempercepat pembangunan dan aktivasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Percepatan tersebut ditargetkan rampung dalam waktu satu pekan untuk memperluas cakupan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan bahwa eksekusi kilat ini bertumpu pada pendekatan berbasis data (data-driven) agar setiap intervensi gizi mendarat tepat di titik-titik yang paling membutuhkan. Wilayah yang menjadi prioritas meliputi kawasan Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Maluku Utara, hingga Nias.
Akselerasi pembangunan SPPG di wilayah 3T mendesak dilakukan mengingat tingginya angka prevalensi stunting di daerah-daerah tersebut. BGN memangkas tenggat waktu penyelesaian infrastruktur dapur gizi ini secara drastis—dari yang semula dipatok satu bulan, dipersingkat menjadi hanya satu minggu.
Untuk memastikan pembangunan dan aktivasi SPPG tepat sasaran, BGN melakukan penyandingan data dengan Kementerian Kesehatan. Hasil penyandingan tersebut menunjukkan sebanyak 1.700 dapur gizi siap dioperasikan dalam waktu dekat untuk melayani masyarakat di wilayah berisiko tinggi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari pembenahan tata kelola Program MBG, khususnya untuk memperluas akses layanan pemenuhan gizi ke daerah yang selama ini memiliki tantangan geografis dan tingkat kerawanan gizi yang lebih tinggi.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

