Komandan paramiliter Basij, Hojjatoleslam Hossein Taeb, menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran. Pernyataan tersebut membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mengatakan Washington memegang kendali penuh atas jalur perairan strategis tersebut.
Komando militer gabungan Iran juga menyatakan tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran. Iran menilai klaim Amerika Serikat mengenai kebebasan pelayaran kapal di kawasan tersebut sebagai tidak berdasar.
Pejabat senior urusan politik militer Iran, Rasoul Sanaei-Rad, mengatakan Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik. Ia juga memperingatkan bahwa Iran akan memberikan respons yang lebih tegas dan ofensif jika kembali menghadapi perang di masa depan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Teheran masih mempertahankan tekanan terhadap jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi lalu lintas energi dan perdagangan internasional.
Pada Juni lalu, Iran dan Amerika Serikat sempat mencapai kesepakatan sementara untuk memperpanjang gencatan senjata yang berlaku sejak April. Kesepakatan tersebut juga menyerukan pemulihan kebebasan navigasi di kawasan Teluk. Namun, kesepakatan itu kemudian runtuh beberapa pekan setelah Iran kembali melakukan serangan terbatas terhadap kapal-kapal yang menurut Teheran melanggar ketentuan perjanjian. Perkembangan tersebut kemudian mendorong Amerika Serikat melancarkan serangan kembali ke sejumlah wilayah di provinsi selatan Iran.
Washington diduga melakukan serangan tersebut untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menargetkan kapal-kapal di kawasan Teluk. Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai Amerika Serikat telah berulang kali melakukan kesalahan perhitungan akibat kegagalan intelijen.
Perselisihan mengenai kendali Selat Hormuz kini menjadi bagian dari konflik yang lebih luas antara kedua negara. Jika ketegangan kembali meningkat, kondisi tersebut berpotensi mengancam keamanan pelayaran serta stabilitas kawasan Teluk.
Alexander Jason – Redaksi

