Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Julia Maharani Dabi telah menyimpan impian untuk menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional.
Siswa SMAN 1 Wamena, Papua Pegunungan, itu mengaku selalu antusias menyaksikan upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia melalui televisi. Ia terkesan melihat para anggota Paskibraka menjalankan tugas mengibarkan Sang Merah Putih di Kompleks Istana Kepresidenan.
Dari sana, muncul keyakinan dalam diri Julia bahwa suatu hari dirinya juga dapat berdiri di antara pasukan tersebut.
“Saya kalau 17-an, setiap hari saya nonton. Mereka langkahnya tegap, saya berpikir pasti saya bisa. Saya percaya diri kalau saya akan mengibarkan bendera,” ujar Julia dikutip Sabtu (15/8).
Dorongan itu semakin kuat setelah kedua orang tuanya turut mendukung dan memotivasi Julia untuk meraih impian tersebut. Terlebih, menurut mereka, Julia memiliki postur tinggi sehingga sangat cocok menjadi bagian dari Paskibraka.
Impian tersebut perlahan mulai mendekati kenyataan ketika Julia menjadi siswa baru di SMAN 1 Wamena. Saat proses penerimaan siswa baru, kakak kelas Julia terkesan dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Tak hanya itu, mereka juga menyukai cara Julia melangkahkan kaki.
Julia kemudian diajak mengikuti latihan. Ia pun langsung menerima tawaran tersebut dan mulai menjalani latihan setiap sore sepulang sekolah.
“Setelah itu, jadi kami selalu latihan setiap sore sepulang sekolah. Latihan dan terus latihan,” tuturnya.
Perjalanan Julia tidak selalu mudah. Jarak rumah ke sekolah membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor. Ketika tidak memiliki uang untuk membeli bensin, ia bahkan harus berjalan kaki agar tetap dapat mengikuti latihan baris-berbaris yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.00.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan tekadnya. Julia terus berlatih karena percaya kerja kerasnya dapat membawanya menjadi Paskibraka Nasional.
“Saya sangat semangat karena menurut saya, saya percaya diri. Pasti saya akan bisa jadi Paskibraka nasional. Jadi bagaimanapun tantangannya, cobaan, godaan, saya lewati,” imbuh dia.
Kerja keras Julia mulai membuahkan hasil ketika perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mencari bibit-bibit Paskibraka Nasional di sekolahnya. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Julia bersama empat siswa lain dari sekolahnya lolos ke tahap seleksi provinsi.
Selepas itu, Julia mendapatkan pelatihan yang lebih intensif dan kemudian berkesempatan mengikuti proses verifikasi di Jakarta. Untungnya, Julia dan satu teman sekolahnya berhasil lolos, sementara tiga lainnya kembali ke Provinsi Papua Pegunungan.
Namun, proses pelatihan di Jakarta kembali menghadirkan tantangan. Julia mengatakan salah satu tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru, terutama ketika harus berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan daerah di Indonesia.
Selain itu, keterbatasan dana juga sempat mengganjal langkah Julia menuju Jakarta.
Ia berkisah bahwa dirinya sempat tidak memiliki sepatu pantofel ketika hendak berangkat ke Jakarta. Karena keterbatasan ekonomi, ia pun meminjam sepasang sepatu dari tetangganya.
Namun, ukuran sepatu tersebut rupanya tidak pas dengan kaki Julia. Ia pun merasakan pegal yang luar biasa ketika berlatih menggunakan sepatu tersebut. Kendati demikian, Julia tetap tak mau menyerah pada keadaan.
“Tapi saya tetap semangat. Bagaimanapun caranya, ada tantangan walaupun sakit, saya tetap latihan. Karena saya yakin saya bisa. Saya bukan perempuan lemah, saya itu kuat. Saya akan latihan dengan sungguh-sungguh supaya bisa mengibarkan bendera,” jelas dia.
Kini, Julia tetap antusias berlatih menjelang upacara HUT ke-81 RI di Kompleks Istana Negara yang tinggal menghitung hari meski kedua orang tua yang dulu menjadi pendorong utama motivasinya sudah tak bisa lagi menyaksikan antusiasme tersebut.
Ia berkisah bahwa kedua orang tuanya telah berpulang. Sang ibu meninggal dunia pada 2022, sementara sang ayah wafat dua tahun kemudian.
Kendati demikian, Julia tetap bertekad membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa ia mampu menggapai apa yang telah diimpikannya sejak dulu.
“Saya akan menunjukkan kepada seluruh masyarakat di Papua, bahwa saya dari Papua Pegenungan bisa mengibarkan bendera pusaka di istana dengan baik dan tidak ada kesalahan satu pun,” jelasnya.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

