Penanganan korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga mencakup pemulihan psikososial, terutama bagi anak-anak.
Di posko pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama berbagai pihak menggelar kegiatan trauma healing dan menghadirkan layanan perpustakaan keliling.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana juga perlu memperhatikan kondisi psikologis dan sosial para pengungsi.
Dalam kegiatan trauma healing, anak-anak diajak berinteraksi melalui permainan edukatif, bercerita, bernyanyi, serta berbagai aktivitas kelompok. Kegiatan yang dikemas secara menyenangkan tersebut diharapkan membantu anak-anak mengekspresikan perasaan sekaligus mengurangi kecemasan dan tekanan akibat situasi bencana.
Pendekatan tersebut juga memungkinkan mereka tetap menjalani aktivitas yang sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangan mereka selama berada di pengungsian.
Sementara itu, perpustakaan keliling memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk tetap membaca, belajar, dan bermain selama berada di posko. Layanan tersebut didukung oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka sebagai bagian dari upaya menjaga aktivitas pendidikan anak di tengah kondisi darurat. Kehadiran fasilitas tersebut juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih positif bagi anak-anak selama masa pengungsian.
BNPB berharap dukungan psikososial dapat terus diberikan selama masyarakat masih berada di lokasi pengungsian. Kolaborasi antara pemerintah dan berbagai unsur masyarakat dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan warga secara lebih menyeluruh.
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu proses pemulihan masyarakat terdampak sekaligus mempercepat mereka untuk kembali bangkit setelah bencana. Anak-anak sebagai kelompok rentan menjadi salah satu prioritas dalam proses pemulihan tersebut.
Alexander Jason – Redaksi

