Korban jiwa akibat gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7.7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) kini terus bertambah.
Laporan resmi tim SAR gabungan dan pemerintah hingga Selasa (18/8) mencatat total korban meninggal dunia telah mencapai 70 jiwa.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Bramantyo, mengungkapkan bahwa data temuan tim lapangan mencatat total 202 korban langsung yang ditangani.
Memasuki hari ketiga pascagempa, tim SAR juga tidak lagi menerima laporan warga yang hilang dari pihak keluarga maupun kerabat. Kondisi tersebut membuat fokus operasi mulai dialihkan untuk mendukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penyisiran serta pemulihan wilayah terdampak.
Sementara itu secara terpisah, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, merinci bahwa wilayah Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi daerah paling terdampak parah.
BNPB mencatat jumlah warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian mencapai 40.040 jiwa. Menurut Berton, tingginya angka pengungsi tidak hanya disebabkan kerusakan rumah, tetapi juga trauma psikologis dan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Data BNPB menunjukkan pengungsi tersebar di sejumlah kabupaten.
Di Kabupaten Manggarai terdapat 6.487 orang mengungsi, sementara di Manggarai Timur terdapat 966 orang yang berada di posko BPBD dan sekitar 14.000 jiwa mengungsi secara mandiri. Kemudian di Manggarai Barat terdapat 600 jiwa pengungsi, Nagekeo 6.221 jiwa, Sikka 5.681 jiwa, Ende 3.666 jiwa dan Ngada 1.920 jiwa.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

