Sebanyak 108 sekolah di Serian, Sarawak, Malaysia, ditutup sementara sejak Rabu (12/8) setelah kabut asap membuat Indeks Pencemaran Udara atau Air Pollutant Index (API) di wilayah tersebut melampaui angka 200 dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Penutupan sekolah dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan siswa dan tenaga sekolah dari paparan kabut asap. Selama sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar dialihkan melalui sistem Pembelajaran dan Pengajaran di Rumah (PdPR).
Wakil Perdana Menteri Sarawak sekaligus Ketua Komite Pengelolaan Bencana Negara Bagian (SDMC), Datuk Amar Douglas Uggah Embas, pada Rabu (12/8) mengatakan keputusan tersebut diambil setelah kualitas udara di Serian memburuk.
Berdasarkan National Haze Action Plan Malaysia, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak harus ditutup ketika API mencapai angka 200. Angka tersebut menunjukkan kualitas udara telah berada pada kategori sangat tidak sehat.
Sementara itu, sekolah di sejumlah wilayah Kalimantan masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka meski turut menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, misalnya, Dinas Pendidikan melakukan penyesuaian jam belajar dengan menggeser waktu masuk sekolah menjadi pukul 09.00 WITA mulai Kamis (20/8).
Sekolah yang berada di wilayah dengan kondisi kabut asap lebih parah juga diminta melakukan penyesuaian secara situasional sesuai kondisi di masing-masing wilayah.
Kondisi karhutla di Banjarbaru masih menjadi perhatian. Pada Jumat (21/8/2026), kebakaran lahan bahkan sempat merembet ke kawasan Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru. Api berhasil dipadamkan sebelum mencapai fasilitas utama sekolah, meski jaringan listrik dan internet di kawasan tersebut sempat terdampak.
Akbari Danico – Redaksi

