Pemerintah Indonesia belum membuka bantuan kemanusiaan dari negara asing untuk menangani dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), karena menilai kapasitas dan sumber daya dalam negeri masih mampu memenuhi kebutuhan para korban.
Namun, hingga enam hari pascagempa, sejumlah pengungsi mandiri di Kabupaten Sikka dilaporkan belum menerima bantuan dan mulai kesulitan memenuhi kebutuhan makanan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Senin (17/8) mengatakan pemerintah masih mampu menangani berbagai kebutuhan masyarakat terdampak, mulai dari logistik hingga pengungsian.
Pemerintah juga mulai mengidentifikasi kebutuhan untuk proses pemulihan, termasuk pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan tempat tinggal akibat gempa.
Sejumlah negara sebelumnya telah menunjukkan perhatian terhadap bencana yang melanda NTT. Iran menyatakan kesiapannya memberikan bantuan, sementara China turut menyampaikan belasungkawa dan simpati kepada masyarakat Indonesia yang terdampak gempa.
Meski pemerintah pusat menilai kebutuhan korban masih dapat ditangani menggunakan sumber daya nasional, kondisi berbeda dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi pengungsian mandiri.
Dilansir dari BBC News Indonesia pada Jumat (21/8), sejumlah warga yang mengungsi secara mandiri di Kabupaten Sikka mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah hingga hari keenam setelah gempa.
Persediaan makanan yang semakin menipis membuat sebagian warga harus memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka. Sejumlah pengungsi terpaksa mengonsumsi ubi-ubian untuk bertahan hidup sembari menunggu bantuan tiba.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam distribusi bantuan hingga menjangkau sebagian masyarakat terdampak, terutama mereka yang berada di lokasi pengungsian mandiri.
Sementara itu, pemerintah menegaskan penanganan bencana masih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui kapasitas dan sumber daya yang dimiliki Indonesia. Pemerintah juga terus mengevaluasi perkembangan di lapangan untuk menentukan kebutuhan penanganan selanjutnya.
Akbari Danico – Redaksi

