Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan sepanjang Agustus 2026 mulai berdampak langsung terhadap masyarakat, mulai dari gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap hingga kerugian materi setelah api membakar lahan dan ternak milik warga.
Dilansir dari BBC News Indonesia pada Jumat (21/8), sejumlah warga mengaku mengalami batuk-batuk hingga sesak napas akibat menghirup kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan.
Dampak karhutla juga dirasakan warga yang menggantungkan penghasilan dari peternakan. Ratusan ayam milik salah seorang warga dilaporkan mati dilalap api, menyebabkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Situasi kebakaran semakin mengkhawatirkan seiring bertambahnya titik api yang terdeteksi di Pulau Kalimantan.
Pada Rabu (19/8), tercatat sebanyak 1.619 titik api di Kalimantan. Jumlah tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya dan menunjukkan peningkatan aktivitas kebakaran yang signifikan.
Kabut asap yang ditimbulkan karhutla tidak hanya mengurangi kualitas udara, tetapi juga membuat masyarakat harus menghadapi risiko gangguan pernapasan di tengah aktivitas sehari-hari.
Karhutla sendiri bukan persoalan baru bagi masyarakat Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan beserta kabut asap telah berulang kali terjadi dari tahun ke tahun, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai penyebab karhutla terus berulang serta efektivitas upaya pencegahan yang dilakukan untuk menekan kebakaran sebelum meluas dan berdampak terhadap masyarakat.
BBC News Indonesia dalam laporannya turut menyoroti persoalan berulangnya karhutla di Kalimantan serta dampak yang harus ditanggung masyarakat setiap kali kebakaran kembali terjadi.
Akbari Danico – Redaksi

