Rusia membuka peluang kerja sama teknologi dengan Indonesia melalui pengembangan dan lokalisasi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri nasional. Tawaran tersebut mencakup teknologi drone untuk kebutuhan sipil, robotika bawah air, sistem komunikasi mandiri dalam kondisi darurat, serta teknologi pengolahan limbah.
Pembahasan dilakukan dalam pertemuan Kementerian Perindustrian dengan Senator Federasi Rusia, Ilyas Umakhanov, di Jakarta. Indonesia berharap hubungan bilateral tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi berkembang menjadi investasi, alih teknologi, dan penguatan kapasitas industri. Sejumlah sektor lain juga menjadi perhatian dalam penjajakan kerja sama, seperti peralatan telekomunikasi, agrokimia, dan otomatisasi industri.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menekankan bahwa kerja sama harus memberikan nilai tambah bagi industri dalam negeri. Karena itu, teknologi Rusia diharapkan tidak sekadar masuk sebagai produk jadi, tetapi dapat dikembangkan dan dilokalkan bersama mitra Indonesia. Pendekatan tersebut dinilai dapat meningkatkan kemampuan produksi serta penguasaan teknologi nasional.
Ilyas mengatakan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan membuat teknologi Rusia, khususnya robotika bawah air, berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan domestik. Teknologi pengolahan limbah juga dinilai dapat menghasilkan sumber daya yang bermanfaat bagi sektor pertanian dan peternakan.
Berbagai tawaran tersebut selanjutnya akan dikaji untuk melihat kesesuaiannya dengan kebutuhan industri serta peluang pengembangannya di Indonesia. Kerja sama internasional diharapkan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi kedua negara.
Hubungan industri Indonesia dan Rusia sebelumnya juga diperkuat melalui partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country dalam INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, Rusia. Kegiatan tersebut mempertemukan perusahaan kedua negara melalui forum bisnis, business matching, serta skema Business-to-Business (B2B) dan Government-to-Government (G2G).
Pemerintah Indonesia menilai rangkaian kerja sama tersebut membuka peluang lebih besar untuk investasi, transfer teknologi, dan kemitraan industri. Jika ditindaklanjuti secara konsisten, kolaborasi teknologi Rusia dapat memperkuat kapasitas industri Indonesia sekaligus membuka akses perusahaan nasional ke pasar Rusia dan kawasan Eurasia.
Alexander Jason – Redaksi

