Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia pada Rabu (26/8/2026) akibat kombinasi asap lintas batas dari Indonesia, kebakaran lokal, serta kondisi cuaca yang kering.
Data Air Pollutant Index Management System (APIMS) Malaysia menunjukkan 17 kawasan di enam negara bagian dan dua wilayah federal mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga pukul 08.00 waktu setempat.
Sarawak menjadi wilayah dengan tingkat polusi tertinggi. Sri Aman mencatat indeks polusi udara (API) 167, disusul IPD Serian 166 dan Samarahan 162. Di Semenanjung Malaysia, Nilai, Negeri Sembilan, mencatat API 162. Sementara Cheras, Kuala Lumpur, dan Putrajaya masing-masing berada di angka 159.
Di Selangor, Johan Setia dan Shah Alam sama-sama mencatat API 158. Selanjutnya, Klang berada di angka 151, Banting 144, dan Petaling Jaya 123. Wilayah lain yang masuk kategori tidak sehat yakni Tangkak di Johor dengan API 153, Bukit Rambai di Melaka 143, Alor Gajah 128, serta Taiping di Perak 108.
Berdasarkan standar kualitas udara Malaysia, API 101–200 masuk kategori tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya. Pada pembaruan pagi tersebut, tidak ada wilayah yang tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat maupun berbahaya. Sebanyak 49 kawasan lainnya berada pada tingkat kualitas udara sedang dan dua kawasan tercatat baik.
Kondisi di Sarawak menjadi perhatian karena kualitas udara sebelumnya sempat memburuk hingga kategori sangat tidak sehat. Pada 21 Agustus, misalnya, API di Serian sempat mencapai 227. Otoritas Malaysia mengaitkan memburuknya kualitas udara dengan pergerakan kabut asap dari berbagai arah, termasuk asap lintas batas dari Kalimantan.
Kementerian Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Malaysia sebelumnya menyebut kondisi kering berkepanjangan, curah hujan yang rendah, serta aktivitas pembakaran terbuka di dalam dan luar negeri menjadi sejumlah faktor yang memperburuk kabut asap. Di Sarawak, otoritas lingkungan juga mengidentifikasi asap lintas batas serta kebakaran hutan dan lahan gambut lokal sebagai faktor utama penurunan kualitas udara.
Di Sarawak, otoritas lingkungan telah mengidentifikasi bahwa kabut asap RI serta kebakaran lahan gambut dan hutan lokal merupakan pendorong utama memburuknya kualitas udara Malaysia, dengan beberapa stasiun mendekati ambang batas “Sangat Tidak Sehat” yaitu 201 dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah Malaysia pun mengimbau masyarakat membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau kardiovaskular, diminta meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker pelindung ketika berada di luar ruangan.
Kabut asap yang kembali meluas menunjukkan bahwa dampak karhutla di Indonesia tidak hanya menjadi persoalan domestik, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas batas terhadap kualitas udara negara-negara tetangga.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

