National

Dede Yusuf Dorong Anak Muda Kuasai AI Tanpa Kehilangan Skill dan Kreativitas

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Dede Yusuf mendorong generasi muda menguasai kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) tanpa kehilangan keterampilan (skill) dan kreativitas yang menjadi kekuatan manusia. Perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia (SDM) agar generasi muda mampu beradaptasi dan tetap memiliki daya saing.

Menurut Dede, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) agar generasi muda mampu beradaptasi sekaligus tetap memiliki daya saing.

Dede menyampaikan hal tersebut saat menjadi special speaker Pink Model United Nations (PinkMUN) 2026 di Kampus BINUS, Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Ia menilai kehadiran AI merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari karena telah merambah berbagai sektor, termasuk pendidikan dan dunia kerja.

Dede juga mengingatkan pentingnya menjaga kemampuan manusia di tengah perkembangan teknologi. Kemajuan AI tidak boleh membuat kemampuan manusia, termasuk kecerdasan emosional, justru tertinggal.

“AI ini adalah sebuah keniscayaan yang nggak mungkin kita tolak kehadirannya di dalam dunia modern, baik itu dunia pendidikan maupun dunia lapangan kerja. Itu adalah sesuatu yang sudah hadir dan sudah masuk,” ujarnya.

Menurut Dede, perkembangan AI menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama mereka yang menekuni bidang kreatif dan digital. Ia mencontohkan pembuatan musik, film, computer-generated imagery (CGI), hingga karya 3D yang kini dapat dilakukan dengan bantuan AI dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Kondisi tersebut menuntut generasi muda tetap membangun dan mempertahankan keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Pemanfaatan AI tidak boleh menghilangkan kemampuan manusia dalam menghasilkan karya secara mandiri.

Dede juga mengingatkan pentingnya menjaga kemampuan manusia di tengah perkembangan teknologi. Kemajuan AI tidak boleh membuat kemampuan manusia, termasuk kecerdasan emosional, justru tertinggal.

“Konsep dasar utamanya, manusianya harus dicerdaskan agar bisa menguasai. Jangan sampai kecerdasan manusia turun, kecerdasan emosional dan lain-lainnya, sementara AI-nya lebih tinggi,” ujarnya.

Karena itu, Dede menilai pengembangan AI harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas SDM. Indonesia tidak boleh melakukan lompatan teknologi terlalu cepat tanpa memastikan masyarakat memiliki kemampuan yang memadai untuk menguasainya.

Dede juga mengingatkan agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI. Indonesia perlu memiliki SDM yang mampu memahami dan menguasai teknologi sehingga tidak terus bergantung pada produk dan teknologi dari luar negeri.

Karena itu, Dede menilai pengembangan AI harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas SDM. Indonesia tidak boleh melakukan lompatan teknologi tanpa memastikan masyarakat memiliki kemampuan yang memadai untuk menguasainya.

“Jangan sampai kita ingin maju tetapi kita belum menguasai. Kalau kita nanti belum menguasai, yang ada kita dikuasai. Kita hanya jadi user, lalu kemudian segala sesuatunya harus kita beli dan itu semua dari luar,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Dede mengapresiasi penyelenggaraan PinkMUN 2026 sebagai ruang bagi generasi muda untuk berdiskusi dan menyampaikan gagasan mengenai berbagai isu strategis. Ia berharap forum semacam ini terus dikembangkan agar anak muda memiliki ruang untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.

“Saya pikir ini bagus sekali, mudah-mudahan diskusi ini bisa diteruskan oleh BINUS dan pihak lain-lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, Deputy Secretary General External Affairs PinkMUN 2026 Kalesa Salsabila Arizya mengatakan terdapat kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat menggerus peluang anak muda dalam memperoleh pekerjaan pada masa mendatang, meskipun mereka telah menempuh pendidikan dengan baik.

Untuk itu, melalui diskusi hari ini yang diinisiasi sahabat kami, Anindya Khairunnisa dan teman-teman Pink MUN, kami ingin memperoleh pemahaman lebih luas, mengenai situasi hari ini dan bagaimana kami bisa menghadapinya, dari perspektif pemerintah yang diwakili Wamenaker Bapak Afriansyah Noor, lalu anggota DPR RI Bapak Dede Yusuf yang punya pengalaman panjang di dunia pendidikan. Lalu, dari sudut pandang UN Women, maupun negara-negara sahabat, yang diwakili Kedubes Meksiko.

Selain Dede Yusuf Macan Effendi, Pink Model UN 2026 Exclusive Panel Discussion turut menghadirkan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor sebagai pembicara kunci, Kepala Program UN Women Indonesia Dwi Yuliawati, serta Atase Kerja Sama Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia Viviana González.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...