Pemerintah Jerman menuding Rusia bertanggung jawab atas percobaan serangan drone bermuatan bahan peledak di Bandara Leipzig/Halle pada 4 Agustus 2026.
Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt mengatakan hasil penyelidikan aparat keamanan dan informasi intelijen menunjukkan keterlibatan pihak yang bertindak untuk kepentingan negara Rusia. Menurutnya, karakteristik drone, komponen yang digunakan, bahan peledak, serta sistem pemicu memiliki kemiripan dengan operasi hibrida Rusia sebelumnya.
Menurut Dobrindt, pola serangan tersebut memiliki kemiripan dengan operasi hibrida yang dilakukan Rusia. Pemerintah Jerman menyatakan hasil penyelidikan menunjukkan adanya indikasi keterlibatan Rusia dalam insiden tersebut.
Jerman kemudian meningkatkan tingkat kewaspadaan terhadap ancaman drone dari tingkat “umum” menjadi “tinggi”. Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menilai ancaman serangan drone perlu mendapat perhatian lebih serius.
Selain meningkatkan kewaspadaan, Jerman juga mengambil sejumlah langkah terhadap Rusia. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mengatakan Berlin akan menutup konsulat Rusia di Bonn dan Russian House, pusat kebudayaan Rusia di Berlin.
Pemerintah Jerman juga memperketat pengawasan terhadap perjalanan warga negara Rusia ke Jerman sebagai bagian dari respons atas dugaan ancaman tersebut.
Tuduhan yang disampaikan pemerintah Jerman mendapat penolakan dari Rusia. Pemerintah Rusia membantah keterlibatannya dalam dugaan serangan drone tersebut dan menolak tuduhan yang diarahkan kepada negaranya.
Pemerintah Jerman menyatakan kasus Leipzig menjadi bagian dari kekhawatiran yang lebih luas terhadap aktivitas hibrida yang dinilai mengancam keamanan Jerman dan negara-negara Eropa.
Reisnasya Mutiara Sringindari – Redaksi

