Pemerintah menyiapkan langkah pemulihan Desa Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah kebakaran melanda kawasan tersebut dan berdampak pada kehidupan masyarakat serta aktivitas pariwisata.
Menteri Pariwisata (Menpar), Widiyanti Putri Wardhana, meninjau langsung Desa Adat Sade untuk melihat kondisi kawasan sekaligus memastikan penanganan darurat dan rencana pemulihan berjalan terkoordinasi.
Widiyanti menyampaikan empati kepada masyarakat terdampak. Menurut dia, rumah adat di Sade tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga berkaitan dengan mata pencaharian dan identitas sejarah masyarakat Sasak.
Berdasarkan data sementara Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, dan Tim Lapangan Politeknik Pariwisata Lombok per 27 Agustus 2026, kebakaran berdampak pada 189 kepala keluarga dan 320 pelaku pariwisata. Data tersebut juga mencatat kerusakan pada 75 rumah adat dan 69 art shop.
Selain itu, sejumlah bangunan adat dan fasilitas pendukung turut terdampak, antara lain delapan lumbung alang, satu menara pantau, empat berugak sekenam, enam berugak sakepat, serta satu Bale Beleq yang berfungsi sebagai museum.
Data pemerintah daerah sebelumnya juga mencatat sejumlah fasilitas umum dan adat lainnya terdampak, termasuk masjid dan fasilitas wisatawan. Secara keseluruhan, pemerintah memperkirakan sekitar 167 bangunan dan aset di kawasan tersebut terdampak kebakaran.
Dari sisi ekonomi, kebakaran turut menghantam aktivitas usaha warga. Sebanyak 69 art shop yang menjadi tempat penjualan kerajinan khas Lombok ikut terbakar. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah memperkirakan total kerugian akibat kebakaran mencapai sekitar Rp34 miliar. Sementara itu, angka terbaru yang disampaikan Menteri Pariwisata mencapai Rp33,84 miliar.
Sebagai langkah awal penanganan, Kementerian Pariwisata berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Politeknik Pariwisata Lombok, BNPB, TNI, Polri, dan PMI untuk menyalurkan bantuan logistik serta mendukung operasional dapur umum. Mahasiswa Poltekpar Lombok turut terlibat dalam pengelolaan dapur umum bagi masyarakat terdampak.
Pemerintah juga mulai menyiapkan langkah untuk memulihkan perekonomian warga. Bantuan berupa alat tenun disalurkan kepada para ibu penenun, sementara lokasi usaha sementara disiapkan agar aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.
Pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya diarahkan pada pembangunan kembali bangunan yang rusak. Pemerintah daerah juga menyiapkan konsep rekonstruksi yang tetap mempertahankan karakter budaya dan arsitektur tradisional Sasak sekaligus memperkuat aspek mitigasi kebakaran.
Pemerintah Provinsi NTB sebelumnya menyatakan pemulihan kawasan perlu memperhatikan keberlanjutan warisan budaya masyarakat Sasak. Pendataan pemerintah menunjukkan kerusakan mencakup rumah tradisional, lumbung alang, berugak, Bale Beleq, serta art shop yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Sade.
Dengan demikian, pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya menyasar pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan aktivitas ekonomi dan keberlangsungan ekosistem pariwisata masyarakat setempat.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

