Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, Provinsi Lampung, kembali mengalami erupsi sebanyak empat kali sepanjang siang hari pada Selasa, 8 September 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi keempat melontarkan kolom abu vulkanik berwarna kelabu hingga hitam pekat dengan intensitas tebal.
Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum yang signifikan serta durasi gempa letusan yang relatif panjang. Arah sebaran kolom abu terpantau menuju barat daya dan barat, membawa material asap serta abu halus ke wilayah sekitarnya.
Erupsi tersebut berpotensi memengaruhi kondisi di sekitar jalur penerbangan dan pelayaran yang berada dalam lintasan sebaran material vulkanik. Pemantauan visual dan kegempaan terus dilakukan oleh pos pengamatan PVMBG untuk mengantisipasi perubahan aktivitas gunung api. Intensitas letusan yang kembali meningkat menunjukkan perlunya kewaspadaan masyarakat di kawasan sekitar Selat Sunda.
Pemerintah dan lembaga terkait juga perlu memastikan informasi mengenai perkembangan erupsi disampaikan secara cepat dan akurat. Saat ini, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Seiring meningkatnya intensitas letusan harian, PVMBG mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawah.
Aktivitas juga dilarang dilakukan dalam radius bahaya lima kilometer dari puncak Gunung Anak Krakatau. Pembatasan tersebut menjadi langkah pencegahan untuk mengurangi risiko paparan material vulkanik maupun bahaya lain akibat aktivitas erupsi.
Masyarakat pesisir Selat Sunda di wilayah Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi. Imbauan tersebut terutama berkaitan dengan beredarnya isu hoaks mengenai potensi tsunami yang dapat menimbulkan kepanikan.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD terus memperkuat kesiapsiagaan sistem peringatan dini dan koordinasi antarinstansi. Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang tepat sekaligus siap menghadapi kemungkinan peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Alexander Jason – Redaksi

