National Regional

51.896 Warga Banyumas Terdampak Kekeringan, BPBD Salurkan 3,7 Juta Liter Air

Sebanyak 51.896 warga di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terdampak kekeringan hingga Minggu (13/9/2026). Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas mencatat, dampak kekeringan telah dirasakan di 62 desa dan kelurahan yang tersebar di 19 kecamatan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Banyumas Abdul Ladjis mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan pembaruan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla per 13 September 2026.

Dari jumlah tersebut, tercatat sebanyak 15.235 keluarga mengalami dampak kekeringan. BPBD Banyumas terus melakukan penanganan, salah satunya dengan menyalurkan air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air.

Hingga kini, BPBD Banyumas telah melakukan 731 ritase pengiriman air bersih. Total air yang telah disalurkan mencapai 3.711.000 liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

“Penanganan kekeringan terus kami lakukan, salah satunya melalui pendistribusian air bersih ke wilayah yang terdampak,” kata Abdul di Purwokerto, Banyumas, Minggu (13/9/2026).

Dampak kekeringan juga tidak hanya dirasakan oleh warga di kawasan permukiman. BPBD Banyumas mencatat terdapat 13 lokasi fasilitas umum yang turut terdampak dan membutuhkan dukungan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.

Kondisi kekeringan tersebut terjadi saat Banyumas berada dalam status awas kekeringan meteorologis. Berdasarkan peringatan dini yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), status tersebut berlaku untuk periode 11-20 September 2026 atau Dasarian II September.

Selain menangani dampak kekeringan, BPBD Banyumas juga mencatat adanya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Hingga 13 September 2026, total area yang terdampak karhutla mencapai 32,5 hektare.

Karhutla tersebut terjadi di sejumlah kecamatan, di antaranya Purwojati, Jatilawang, Ajibarang, Wangon, Patikraja, Kalibagor, Cilongok, Sokaraja, Kembaran, Baturraden, dan Rawalo. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah perkotaan Purwokerto.

Abdul mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga juga diminta menghemat penggunaan air dan tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran. Ia mengatakan penanganan kekeringan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan kondisi di setiap wilayah terdampak.

Sementara itu, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat Banyumas termasuk dalam 31 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang berstatus awas kekeringan meteorologis pada periode 11-20 September 2026.

Selain Banyumas, wilayah berstatus awas tersebut mencakup Kota Tegal, Kota Magelang, Kota Semarang, Kota Surakarta, serta sejumlah kabupaten seperti Cilacap, Brebes, Tegal, Purbalingga, Pemalang, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo, Magelang, Batang, Kendal, Purworejo, Klaten, Boyolali, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Grobogan, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, dan Wonogiri.

BMKG juga mencatat empat wilayah berstatus siaga, yakni Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Semarang. Tidak ada kabupaten atau kota di Jawa Tengah yang masuk status waspada pada periode tersebut.

BMKG merekomendasikan agar peringatan dini kekeringan meteorologis menjadi bahan kewaspadaan bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyiapkan langkah mitigasi terhadap berbagai dampak yang dapat muncul akibat kondisi kekeringan.

Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...