Runtuhnya gedung Al-Saada di Kota Gaza, Palestina, menewaskan sedikitnya 21 orang pada Rabu (16/9/2026). Peristiwa tersebut kembali menyoroti ancaman bangunan rusak yang masih dihuni warga akibat terbatasnya tempat tinggal yang aman bagi masyarakat yang kehilangan rumah atau mengungsi.
Dilansir dari Al Jazeera, koresponden Noor Khaled melaporkan bahwa kekhawatiran warga meningkat akibat retakan dan risiko bangunan runtuh secara tiba-tiba. Kondisi tersebut membuat sebagian keluarga menghadapi pilihan terbatas antara bertahan di bangunan yang telah mengalami kerusakan atau mencari tempat berlindung lain yang juga sulit diperoleh.
Pertahanan Sipil Gaza mengatakan banyak keluarga tetap menempati bangunan berisiko karena tidak memiliki tempat lain yang lebih aman. Sejumlah bangunan yang sebelumnya rusak akibat serangan masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh keluarga yang kehilangan rumah atau mengungsi dari wilayah lain.
Gedung Al-Saada sendiri merupakan bangunan enam lantai yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan Israel. Pemerintah Kota Gaza menyatakan bangunan tersebut dihuni para pengungsi sebelum runtuh pada Rabu dini hari.
Ancaman serupa sebelumnya juga terlihat dalam operasi di gedung Karam, Gaza barat. Pertahanan Sipil Gaza pada Agustus menyelesaikan pencarian selama empat hari dan menemukan 19 jenazah dari reruntuhan bangunan tersebut.
Menurut laporan Noor Khaled dari Gaza, warga yang selamat dari gedung Karam mengaku sebelumnya sempat mendengar suara retakan. Namun, mereka tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan tempat tinggal yang dinilai lebih aman.
Keterbatasan alat berat turut memperburuk risiko. Tim Pertahanan Sipil dilaporkan harus menggunakan peralatan sederhana dan menggali reruntuhan secara manual ketika menangani gedung Al-Saada, sehingga proses mencapai korban menjadi lebih sulit.
Pertahanan Sipil Gaza memperkirakan sekitar 2.000 bangunan tempat tinggal yang telah mengalami kerusakan masih dihuni dan berada dalam risiko runtuh. Kondisi itu membuat potensi ambruknya bangunan menjadi ancaman berkelanjutan bagi warga yang tidak memiliki alternatif tempat tinggal yang memadai.
Akbari Danico – Redaksi

