Program 3 Juta Rumah telah resmi ditetapkan sebagai salah satu dari 77 Proyek Strategis Nasional (PSN) periode 2025–2029 untuk memperluas akses hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Komitmen pemerintah ini diperkuat melalui skema Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP).
Ahmad Yasin (30), seorang kurir paket asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, akhirnya memiliki rumah pertama setelah memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP).
Yasin yang telah bekerja sebagai kurir selama empat tahun sebelumnya tinggal bersama orang tua sebelum kemudian menempati rumah kontrakan bersama istrinya. Keinginan memiliki hunian sendiri semakin kuat setelah menikah.
Informasi mengenai rumah subsidi itu pertama kali diketahui Yasin saat sedang mengantar paket di kawasan Komplek Grand Amarta, Brebes. Ia kemudian mencari informasi lebih lanjut mengenai rumah tersebut melalui internet.
“Awalnya saya tahu info rumah ini pas lagi keliling mengantar paket. Saya tanya-tanya ke pemilik rumah yang sudah ada, lalu cari tahu di internet. Sebelumnya belum pernah kebayang, tapi pas menikah memang impian setiap pasangan ingin punya rumah sendiri,” kata Yasin.
Menurut Yasin, proses pengajuan KPR FLPP menjadi salah satu faktor yang membantunya mendapatkan rumah dengan pembiayaan yang lebih terjangkau. Setelah hampir satu tahun menempati rumah tersebut bersama istri dan anaknya, ia mengaku merasakan perubahan dalam kenyamanan kehidupan keluarga.
“Kendalanya sih tidak ada. Malah kita lebih enak memiliki rumah sendiri, lebih tenang bercengkerama bersama keluarga setelah pulang bekerja,” kata dia.
Rumah tersebut juga menjadi ruang bagi Yasin untuk menjalankan aktivitas lain bersama keluarganya. Di halaman rumah, ia menanam sejumlah tanaman buah dan sayuran, seperti kemangi, pepaya, cabai, terong, anggur, hingga kelengkeng.
Kisah Yasin menjadi salah satu gambaran pemanfaatan skema KPR FLPP untuk masyarakat yang ingin memiliki rumah pertama, termasuk pekerja di sektor informal.
Pada 2026, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) bersama BP Tapera menargetkan penyaluran KPR FLPP sebanyak 350.000 unit, meningkat dari target 220.000 unit pada tahun sebelumnya.
Hingga 11 September 2026, sebanyak 148.508 unit rumah telah tersalurkan dengan nilai mencapai Rp18,47 triliun. Skema tersebut menerapkan suku bunga tetap, yakni 5 persen untuk rumah tapak dan 6 persen untuk rumah subsidi.
Program 3 Juta Rumah juga telah ditetapkan sebagai salah satu dari 77 Proyek Strategis Nasional (PSN) periode 2025-2029. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak dan terjangkau.
Bagi Yasin, memiliki rumah sendiri bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga memberikan rasa aman bagi keluarganya. Ia berharap anak muda lain yang ingin memiliki rumah mulai menyisihkan sebagian pendapatan untuk mewujudkan kebutuhan tersebut.
“Untuk anak muda, yang penting kita menyisihkan sedikit uang gaji atau tabungan kita untuk bisa memiliki rumah sendiri. Dengan program ini semuanya jadi lebih terjangkau,” jelas Yasin.
Atas kemudahan akses yang diterimanya, Yasin menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah atas keberlanjutan program pembiayaan rumah subsidi yang menurutnya sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) yang sudah menyediakan perumahan KPR ini. Program ini sangat berguna bagi kami,” tutur Yasin.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

