Pemerintah menyiapkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebagai salah satu sumber tambahan energi untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia yang diproyeksikan terus meningkat. Penetapan lokasi pembangunan PLTN ditargetkan dapat dilakukan pada 2026 atau paling lambat 2027.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi mengatakan pengembangan PLTN menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan pasokan listrik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi.
“Pemerintah sudah mengejar PLTN. Insyaallah di tahun 2026 atau 2027 paling lambat, pemerintah sudah menetapkan tapaknya,” kata Elen dilansir dari Antara, Rabu (30/9/2026).
Rencana tersebut disiapkan di tengah proyeksi peningkatan konsumsi listrik nasional. Pada 2030, kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan mencapai 600 terawatt hour (TWh). Sementara konsumsi listrik per kapita diproyeksikan mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh).
Elen mengatakan penentuan lokasi PLTN nantinya akan menyesuaikan dengan teknologi nuklir yang dipilih. Pemerintah saat ini memiliki sejumlah opsi teknologi dan telah menerima ketertarikan dari calon mitra untuk mengembangkan PLTN di Indonesia.
Negara yang disebut berminat bekerja sama antara lain Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia.
Selain nuklir, pemerintah menyiapkan berbagai sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik. Pengembangannya mencakup pembangkit tenaga surya, hidro, angin, bioenergi, panas bumi, hingga energi laut.
Pemerintah juga merencanakan pembangunan green super grid dengan panjang sekitar 70.000 kilometer. Jaringan tersebut ditujukan untuk menghubungkan sumber energi terbarukan dengan pusat industri dan wilayah yang membutuhkan pasokan listrik tinggi.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, tambahan kapasitas pembangkit listrik ditargetkan mencapai 69,5 gigawatt (GW).
Sebanyak 42,6 GW atau 61 persen dari tambahan kapasitas tersebut berasal dari energi baru dan terbarukan. Kemudian 10,3 GW atau 15 persen berasal dari penyimpanan energi, sedangkan 16,6 GW atau 24 persen berasal dari pembangkit berbasis energi fosil.
Dari target tambahan kapasitas EBT tersebut, pemerintah memasukkan nuklir sebesar 0,5 GW. Adapun kapasitas lainnya berasal dari tenaga surya 17,1 GW, hidro 11,7 GW, angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, dan bioenergi 0,9 GW.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

