Iran menyatakan tetap siap menghadapi Amerika Serikat baik melalui jalur militer maupun diplomasi di tengah konflik kedua negara.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Teheran tidak gentar menghadapi tindakan Amerika Serikat. Menurutnya, Iran tetap memiliki kekuatan untuk menghadapi konflik sekaligus membuka peluang perundingan.
Ghalibaf menyampaikan pernyataan tersebut dalam sidang parlemen Iran pada Minggu (4/10/2026). Ia menyebut Washington telah menyampaikan sejumlah usulan melalui mediator setelah Iran mengajukan peta jalan selama tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, Iran masih mempertahankan sejumlah syarat sebelum membuka jalur strategis tersebut. Ghalibaf mengatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh persyaratan yang diajukan Teheran terpenuhi.
Persyaratan itu antara lain penghentian permusuhan di seluruh lini, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Iran sebelumnya menyampaikan persyaratan tersebut kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Dalam konflik tersebut, AS dan Israel disebut melakukan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian merespons dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di Timur Tengah.
Iran juga menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi. Upaya penyelesaian konflik masih berlangsung setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni 2026.
Pernyataan Ghalibaf menunjukkan Iran masih menempuh dua pendekatan dalam menghadapi Amerika Serikat, yakni mempertahankan kesiapan militer sekaligus menggunakan jalur diplomasi.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

