World

AS Minta Iran Pangkas Kapasitas Pengayaan Uranium untuk Akhiri Perang

Amerika Serikat meminta Iran mengambil langkah nyata untuk mengurangi kapasitas pengayaan uraniumnya sebagai salah satu syarat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan kesepakatan dengan Iran tidak cukup jika hanya berisi janji untuk mengurangi aktivitas nuklir pada masa mendatang. Washington menginginkan adanya tindakan konkret terhadap kapasitas pengayaan uranium Iran.

“Jika Anda tidak menginginkan senjata nuklir, lalu mengapa Anda membutuhkan bahan bakar yang diperkaya hingga 60 persen?” kata Vance dalam wawancara dengan Reuters setelah melakukan perjalanan kampanye di Alaska, Senin (5/10).

Menurut Vance, Iran perlu melakukan sesuatu yang berarti terhadap kapasitas pengayaannya untuk menunjukkan bahwa negara tersebut tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.

Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat dan Iran diketahui telah saling bertukar proposal untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu jalur pelayaran penting bagi pasokan energi global.

Vance mengatakan Washington masih terbuka untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Namun, ia menegaskan kesepakatan tersebut harus disertai konsesi konkret terkait program nuklir Iran.

“Kami tidak akan menukar tindakan dengan sekadar kata-kata,” ujar Vance.

Di sisi lain, proses negosiasi menghadapi persoalan mengenai siapa yang memiliki kewenangan mengambil keputusan di Iran. Vance mengatakan Amerika Serikat saat ini melakukan pembicaraan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, tetapi Washington belum mengetahui secara pasti seberapa besar kewenangan kedua pejabat tersebut dalam struktur kekuasaan Iran.

Pernyataan serupa juga disampaikan Presiden AS Donald Trump. Ia mengatakan salah satu persoalan terbesar yang dihadapi Washington adalah ketidakjelasan mengenai pihak yang kini menjalankan Iran.

Pemerintah Iran membantah klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pejabat AS mengetahui dengan baik pihak yang menjadi mitra mereka serta mekanisme pengambilan keputusan di Iran.

Sementara itu, perang dengan Iran turut menjadi isu menjelang pemilu paruh waktu AS pada November. Konflik tersebut dilaporkan menelan biaya sekitar 3 miliar dollar AS per bulan dan turut mendorong kenaikan harga energi.

Vance pun berupaya meredam kritik terhadap penanganan konflik oleh pemerintahan Trump. Ia meminta pemilih tidak menjadikan persoalan perang dengan Iran sebagai alasan untuk tidak mendukung kandidat Partai Republik dalam pemilu mendatang.

Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...