Amerika Serikat kehilangan atau mengalami kerusakan pada sedikitnya 81 pesawat militer, termasuk jet tempur dan pesawat nirawak, selama operasi militer terhadap Iran yang dikenal dengan nama Operation Epic Fury. Kerugian tersebut diperkirakan menelan biaya antara US$1,9 miliar hingga US$3,3 miliar atau sekitar Rp32,5 triliun hingga Rp56,5 triliun, berdasarkan laporan Congressional Budget Office (CBO) yang dirilis pada Senin (5/10).
Laporan lembaga nonpartisan yang menyediakan analisis anggaran bagi Kongres AS itu menghitung perkiraan kerugian pesawat militer hingga 1 Agustus. Angka tersebut mencakup pesawat yang hilang maupun mengalami kerusakan selama kampanye militer Washington terhadap Iran, yang berlangsung dalam perang AS-Israel melawan negara tersebut.
Rentang estimasi biaya yang cukup lebar menunjukkan bahwa nilai kerugian belum ditetapkan dalam satu angka pasti. Berdasarkan laporan tersebut, biaya yang ditimbulkan akibat kehilangan dan kerusakan pesawat militer AS diperkirakan berada di antara US$1,9 miliar dan US$3,3 miliar.
Angka itu juga memperlihatkan besarnya beban finansial yang harus ditanggung Amerika Serikat selama menjalankan operasi militernya. Selain biaya yang berkaitan langsung dengan pesawat yang hilang atau rusak, perang juga berpotensi menimbulkan pengeluaran lain untuk mendukung operasi militer, meskipun rincian biaya tambahan tersebut tidak dijelaskan dalam informasi laporan yang tersedia.
Perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan terus berlangsung hingga memasuki bulan kedelapan. Selama periode tersebut, upaya untuk mencapai gencatan senjata yang bertahan lama belum membuahkan hasil, sehingga konflik masih berlanjut tanpa penyelesaian yang jelas.
Laporan terbaru CBO menyoroti kerugian aset udara sebagai salah satu komponen biaya perang yang dapat dihitung. Namun, angka 81 pesawat tersebut tidak berarti seluruhnya hancur, karena laporan itu mencakup pesawat yang hilang maupun mengalami kerusakan.
Besaran kerugian yang diperkirakan mencapai US$3,3 miliar menjadi gambaran mengenai dampak finansial konflik terhadap aset militer AS. Meski demikian, angka tersebut merujuk pada kerugian pesawat hingga 1 Agustus, sehingga tidak mencakup kemungkinan kehilangan atau kerusakan yang terjadi setelah tanggal tersebut.
Akbari Danico – Redaksi

