National

Kepala BPGMN Janji Pulihkan Ekosistem Gambut dan Mangrove

Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Satyawan Pudyatmoko, menyiapkan langkah pemulihan ekosistem gambut melalui pembasahan lahan dan penyekatan kanal untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Setyawan menjelaskan bahwa gambut mudah terbakar ketika sifat alaminya berubah dari basah menjadi kering. Menurutnya, kanal yang mengalirkan air keluar dari lahan gambut menjadi salah satu penyebab kekeringan, terutama saat musim kemarau.

“Gambut terbakar karena ada upaya untuk mengubah sifat alami gambut, dari yang sifatnya basah dan lembap menjadi kering. Ini adalah problem utama dalam pengelolaan gambut di Indonesia,” ungkapnya usai dilantik Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10).

Ia mengatakan bahwa pemulihan akan diawali dengan membuat gambut kembali basah. Salah satu langkah yang disiapkan ialah memetakan kanal dan membangun sekat agar air tidak cepat terbuang. Selain memulihkan tata air, BPGMN akan mendorong warga mengembangkan komoditas yang lebih sesuai dengan karakter lahan gambut.

Satyawan menyebut sagu, jelutung, dan nanas sebagai beberapa tanaman yang dapat dikembangkan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat diperlukan agar pengelolaan gambut tetap memperhatikan kondisi ekologisnya.

“Kita juga harus bekerja sama dengan masyarakat, mengaktifkan peran masyarakat dalam mengelola gambut agar tidak membudidayakan komoditas-komoditas yang tidak ramah air,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Kepala BPGMN, Mayjen TNI Sriyanto, menekankan bahwa pemulihan gambut dan mangrove perlu berjalan seiring dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Ia menyebut kedua ekosistem tersebut memiliki potensi yang bisa digarap tanpa mengabaikan kelestariannya.

Sriyanto mencontohkan sagu sebagai komoditas yang berpotensi dikembangkan di lahan gambut. Menurutnya, langkah itu dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

“Sagu ternyata sangat potensial untuk dikembangkan di lahan gambut. Jadi, masyarakat harus langsung menerima manfaat dari penanaman sagu di lahan gambut,” terangnya.

Potensi ekonomi, lanjut Sriyanto, juga dapat dikembangkan di kawasan mangrove melalui perikanan dan pariwisata yang menjaga fungsi ekosistem. Ia mengingatkan agar pengembangan usaha tidak merusak mangrove.

“Begitu juga di mangrove. Ada ikan-ikan yang bisa dikembangkan. Kita jangan membuat tambak yang merusak mangrove, tetapi bagaimana ekosistem yang dikembangkan bisa mendukung pariwisata dan pengembangan perikanan yang aman,” ujarnya.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...