Metropolitan

Sudinhub Kepulauan Seribu Rawat Rambu Suar

Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub) Kepulauan Seribu mengintensifkan pemeliharaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) berupa rambu suar untuk meningkatkan keselamatan pelayaran. Hingga pertengahan Oktober 2026, progres pemeliharaan telah mencapai 70 persen.

Analis Pembangunan Pelabuhan Sudinhub Kepulauan Seribu, Bima Dwi Haryudi, mengatakan pemeliharaan dimulai sejak September 2026. Sejumlah rambu suar di perairan Pulau Kelapa dan Pulau Panggang juga telah selesai diperbaiki.

“Saat ini, progres pengerjaan sudah mencapai 70 persen atau sekitar enam dari delapan rambu suar yang diperiksa,” ujarnya, Jumat (16/10).

Ia menjelaskan, pemeliharaan berkala mencakup penggantian lampu suar (marine lantern), peremajaan panel surya dan baterai penyimpan daya, serta kalibrasi sistem kedip (flashing character).

Petugas juga melakukan pengecatan dan pelapisan antikarat pada struktur menara baja untuk mencegah korosi akibat paparan air laut. Perawatan tersebut diperlukan agar rambu suar tetap berfungsi optimal dalam membantu navigasi kapal di perairan Kepulauan Seribu.

“Untuk pengerjaan berikutnya akan dilakukan di perairan Pulau Tidung, Pulau Harapan, hingga Pulau Sepa,” terangnya.

Menurutnya, rambu suar berfungsi membantu kapal menentukan posisi dan haluan pelayaran sekaligus menandai kawasan perairan berbahaya, seperti gugusan karang, gosong, dan perairan dangkal.

“Keberadaan sarana ini penting untuk mendukung keselamatan kapal nelayan, kapal penumpang, maupun kapal wisata,” ungkapnya.

Bima menargetkan seluruh pekerjaan pemeliharaan rampung pada akhir Oktober 2026. Namun, penyelesaian pekerjaan tetap mempertimbangkan kondisi cuaca di perairan Kepulauan Seribu yang dapat memengaruhi pelaksanaan kegiatan.

“Kami ingin memastikan jalur pelayaran di Kepulauan Seribu aman dilintasi, terutama pada malam hari,” ucapnya.

Sementara itu, Maulana, nelayan warga Pulau Kelapa, menilai perbaikan rambu suar membantu nelayan mengenali jalur pelayaran, terutama saat berangkat maupun kembali melaut pada dini hari.

Menurutnya, lampu suar yang redup atau tidak berfungsi dapat meningkatkan risiko kecelakaan, mengingat terdapat banyak karang dangkal di sekitar jalur keluar-masuk pulau.

“Cahaya suar yang terang menjadi patokan utama kami saat pulang melaut dalam kondisi gelap. Adanya perbaikan ini membuat kami merasa jauh lebih aman,” pungkasnya.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...