World

Indonesia Belum Keluarkan Travel Warning ke Arab Saudi, Jemaah Umrah Diminta Waspada

Sejumlah negara memperketat imbauan perjalanan ke Arab Saudi menyusul meningkatnya risiko keamanan dan gangguan penerbangan sepanjang Oktober 2026. Pemerintah Indonesia belum mengeluarkan imbauan untuk menunda seluruh perjalanan, tetapi meminta warga negara Indonesia (WNI), khususnya jemaah umrah, meningkatkan kewaspadaan.

Australia menaikkan status imbauan perjalanannya ke Arab Saudi menjadi Do not travel pada Jumat (16/10/2026). Pemerintah Australia meminta warganya menunda perjalanan yang telah direncanakan, termasuk untuk keperluan ibadah. Peringatan tersebut juga mencakup kemungkinan pembatalan penerbangan, keterlambatan, hingga penutupan wilayah udara secara mendadak.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Singapura pada Selasa (13/10/2026) meminta warganya menunda seluruh perjalanan ke Arab Saudi. Warga yang sudah berada di negara tersebut diminta menjauhi Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta wilayah yang dinilai berisiko tinggi.

Pemerintah Singapura menyebut peningkatan serangan rudal dan drone sejak Juli 2026, termasuk serangan berulang terhadap bandara di Riyadh, sebagai salah satu pertimbangan dalam imbauan tersebut.

Sementara itu, Amerika Serikat menetapkan Arab Saudi pada Level 3 atau Reconsider Travel. Status tersebut berarti warga AS diminta mempertimbangkan kembali rencana perjalanan karena risiko serangan rudal dan drone, konflik bersenjata, serta terorisme. Adapun wilayah perbatasan Arab Saudi dengan Yaman masuk dalam kategori Do not travel.

Di Indonesia, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau jemaah umrah yang sedang berada di Arab Saudi agar tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Dalam siaran pers pada Senin (12/10/2026), Kemenhaj menegaskan bahwa keselamatan jemaah menjadi prioritas pemerintah.

Jemaah diminta memusatkan aktivitas ibadah di Makkah dan Madinah serta membatasi perjalanan yang tidak mendesak ke luar kedua kota tersebut. Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) juga diminta memantau kondisi jemaah, memberikan pendampingan, dan menyampaikan informasi apabila terjadi perubahan jadwal perjalanan.

Juru Bicara Kemenhaj Ichsan Marsha menyebut terdapat 37 jemaah yang berangkat dan pulang melalui Bandara Internasional King Khalid di Riyadh berdasarkan data hingga Minggu (11/10/2026). Menurutnya, berdasarkan komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI Riyadh, tidak ada jemaah umrah Indonesia yang menjadi korban dalam serangan tersebut.

Adapun calon jemaah yang belum berangkat diminta memeriksa kembali status penerbangan dan kesiapan perjalanan melalui biro perjalanan masing-masing sebelum memutuskan keberangkatan.

Reinasya Mutiara Sringindari – Redakai

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...