Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (20/10/2026), menyusul tekanan jual yang membuat indeks kembali berakhir di bawah level 5.000. Pergerakan saham berkapitalisasi besar diperkirakan menjadi salah satu faktor penentu arah indeks selanjutnya.
IHSG menutup perdagangan Senin (19/10/2026) di posisi 4.996,61, turun 188,50 poin atau 3,64%. Dalam sesi yang sama, indeks sempat merosot hingga level 4.907.
Tekanan pasar juga terlihat dari transaksi investor asing. Di pasar reguler, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp 2,28 triliun. Namun, di pasar negosiasi, tercatat pembelian bersih senilai Rp 562 miliar.
Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen negatif salah satunya dipicu kekhawatiran investor terhadap peringatan MSCI terkait usulan perubahan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Sejumlah langkah telah ditempuh otoritas bursa untuk merespons persoalan tersebut. Di antaranya adalah pemberian sanksi denda administratif kepada sejumlah pihak yang dinilai melanggar ketentuan serta penyesuaian batas penurunan harga saham harian atau auto rejection bawah (ARB) menjadi maksimal 7%.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa saham mulai menunjukkan pemulihan dari batas penurunan harga harian setelah sejumlah emiten mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback. Meski demikian, tekanan jual investor asing masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Phintraco Sekuritas memperkirakan area 4.800 hingga 4.900 menjadi rentang support IHSG yang perlu dicermati jika pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar berlanjut.
Di sisi lain, peluang penguatan tetap terbuka. IHSG berpotensi kembali melewati level 5.000 apabila saham-saham berkapitalisasi besar mulai mengalami pemulihan pada perdagangan Selasa.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
