Australia-Indonesia Institute (AII) melakukan kunjungan ke Indonesia pada 12-16 Oktober 2026 untuk memperkuat hubungan bilateral melalui kerja sama di bidang pendidikan, bisnis, media, seni, budaya, dan kepemudaan.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, mengatakan AII berkomitmen memperdalam hubungan kedua negara melalui berbagai sektor, termasuk pembangunan masyarakat dan dialog lintas agama.
Selama kunjungan, Dewan AII mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh pemerintahan, pelaku bisnis, media, serta kalangan seni dan budaya di Jakarta dan Sulawesi Utara. Salah satu agenda yang dilakukan adalah pertemuan dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, yang merupakan alumni Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP).
Di Sulawesi Utara, rombongan mengunjungi SMP Lokon St. Nikolaus di Tomohon. Sekolah tersebut merupakan bagian dari program Australia-Indonesia BRIDGE School Partnership yang menghubungkan sekolah di Indonesia dengan sekolah di Australia.
Dalam kunjungan itu, anggota Dewan AII bertemu dengan siswa dan guru untuk mendengar pengalaman mereka menjalani kemitraan dengan St Columba College di Adelaide, Australia.
Rombongan juga bertemu dengan Wakil Wali Kota Tomohon Sendy G. A. Rumajar dan Wakil Wali Kota Manado Richard Sualang. Selain itu, mereka berdiskusi dengan para peneliti yang terlibat dalam inisiatif kerja sama yang didukung Australia di Sulawesi Utara melalui Partnership for Australia-Indonesia Research dan Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform (KONEKSI).
Kunjungan tersebut turut menjadi kesempatan bagi anggota Dewan AII untuk bertemu dengan alumni berbagai program pertukaran, termasuk AIMEP, Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP), dan Elizabeth O’Neill Journalism Award Program.
Australia-Indonesia Institute didirikan oleh Pemerintah Australia pada 1989 untuk memperkuat hubungan kelembagaan dan mendorong interaksi yang lebih erat antara masyarakat kedua negara. Lembaga ini mendukung berbagai proyek di bidang pendidikan, seni, musik, olahraga, media, kepemudaan, masyarakat sipil, serta dialog lintas agama.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
