Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan jumlah sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, terus berkurang hingga 2029. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah agar lebih banyak limbah dapat dipilah dan diolah sebelum dibuang.
Pramono mengatakan, Jakarta menghasilkan lebih dari 9.000 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 ton masih dikirim ke Bantargebang.
Ia berharap neraca sampah Jakarta dapat mencapai kondisi seimbang pada 2028 hingga 2029. Bahkan, pemerintah daerah menargetkan jumlah sampah yang berhasil diolah dapat melampaui sampah yang perlu dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
“Mudah-mudahan di tahun 2028-2029 paling akhir, neraca sampah di Jakarta sudah bisa imbanglah minimal atau bahkan mungkin sudah mulai negatif,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin (26/10/2026).
Untuk mencapai target tersebut, Pemprov DKI mengubah pendekatan pengelolaan sampah. Jika sebelumnya sampah dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang, kini prosesnya mencakup pemilahan dan pengolahan sebelum masuk ke tahap pembuangan akhir.
Salah satu fasilitas yang digunakan adalah pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau refuse-derived fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara. Menurut Pramono, fasilitas tersebut mengolah sekitar 1.000 ton sampah setiap hari.
Pemprov DKI juga memanfaatkan tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R) serta merencanakan pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Selain pengembangan fasilitas, pemerintah daerah membahas penanganan timbunan sampah di Bantargebang bersama pemerintah pusat dan TNI Angkatan Darat. Salah satu teknologi yang turut disinggung dalam pembahasan tersebut ialah pirolisis.
Teknologi pirolisis mengolah material melalui pemanasan dalam kondisi minim atau tanpa oksigen. Namun, Pramono belum memaparkan secara terperinci rencana penerapan teknologi tersebut untuk menangani sampah di Jakarta.
Ia menyatakan terbuka terhadap berbagai terobosan yang dapat membantu mengurangi beban Bantargebang. Melalui kombinasi pemilahan, pengolahan, dan pengembangan teknologi, Pemprov DKI berharap ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir tersebut dapat berkurang dalam beberapa tahun mendatang.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
