Industri barang mewah Eropa menghadapi tekanan seiring melemahnya daya beli konsumen di China. Kondisi ekonomi yang belum pulih dan penurunan pasar saham membuat masyarakat semakin menahan pengeluaran, termasuk untuk produk fesyen premium.
Mengutip laporan CNA, Selasa (27/10/2026), enam perusahaan barang mewah yang tercatat di bursa Eropa kehilangan total kapitalisasi pasar sekitar 251 miliar euro atau setara Rp 5.084 triliun sepanjang tahun ini. Perusahaan tersebut mencakup Richemont, Prada, Moncler, LVMH, Hermes, dan Kering.
LVMH mencatat penyusutan nilai pasar sebesar 131,6 miliar euro, sedangkan Hermes kehilangan 93,3 miliar euro. Kedua perusahaan tersebut menjadi yang paling terdampak di antara kelompok merek mewah besar yang disebutkan dalam laporan tersebut.
Tekanan juga terlihat pada kinerja penjualan. LVMH, Kering, dan Hermes sama-sama melaporkan pelemahan permintaan dari konsumen China pada kuartal III. Di Kering, penjualan kepada konsumen China turun sekitar 15 hingga 20 persen pada periode tersebut.
Pelemahan ini terjadi setelah permintaan dari China selama bertahun-tahun menjadi salah satu penopang utama industri barang mewah. Namun, perlambatan sektor properti dan kinerja pasar saham yang kurang baik membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Tekanan serupa mulai terlihat di Amerika Serikat. Data transaksi kartu kredit Citi menunjukkan pengeluaran untuk barang mewah turun sekitar 4 persen pada Juli hingga September. Sebelumnya, pasar AS menjadi salah satu penopang penjualan industri tersebut.
Meski demikian, tidak semua merek mengalami penurunan permintaan. Hermes mencatat kenaikan penjualan tas Birkin dan produk tas lainnya sebesar 10,8 persen. Sejumlah merek perhiasan, termasuk Tiffany dan Boucheron, juga membukukan pertumbuhan penjualan dua digit pada kuartal tersebut.
Dengan melemahnya permintaan di dua pasar utama, perusahaan barang mewah kini menghadapi tantangan untuk menjaga kinerja bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
