Krisis kabut asap di Malaysia mulai mengganggu kelangsungan kegiatan usaha. Sejumlah perusahaan mengalami penurunan produksi hingga harus menghentikan sementara sebagian operasional akibat meningkatnya jumlah pekerja yang sakit dan kesulitan memenuhi kebutuhan tenaga kerja.
Temuan tersebut terungkap dalam survei Federation of Malaysian Manufacturers (FMM) terhadap 86 lokasi usaha anggotanya. Lebih dari dua pertiga responden melaporkan mengalami gangguan operasional selama periode kabut asap pada 1 Juli hingga 22 Oktober 2026.
Dari 59 lokasi usaha yang memberikan rincian dampak, sebanyak 81% mencatat peningkatan jumlah karyawan yang mengambil cuti sakit. Selain itu, 63% perusahaan kesulitan memenuhi kebutuhan tenaga kerja karena sebagian pekerja harus mengurus anak yang tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah akibat polusi udara.
Gangguan ketersediaan pekerja turut memengaruhi kapasitas produksi. Sebanyak 37% lokasi usaha yang terdampak melaporkan penurunan output. Sementara itu, 27% menghentikan sementara sedikitnya satu kegiatan operasional dan 14% mengalami keterlambatan produksi maupun pengiriman.
Dampak kabut asap juga meluas ke sektor pendidikan. Penutupan sekolah selama periode polusi diperkirakan mengakibatkan hilangnya 8,4 juta hingga 13,4 juta hari belajar siswa di Malaysia.
Temuan tersebut menjadi bagian dari laporan The 2026 Fire Season and Transboundary Haze in Malaysia yang dipesan FMM. Laporan yang disusun oleh Piyu Ke dari Carbon Spur Sdn Bhd itu memperkirakan krisis kabut asap menimbulkan kerugian kesejahteraan masyarakat sebesar RM 8 miliar atau sekitar Rp 35,7 triliun.
Selain kerugian ekonomi, paparan polusi udara diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 1.700 kematian dini. Sekitar 1.600 di antaranya dikaitkan dengan asap kebakaran yang berasal dari luar Malaysia.
Peneliti mengingatkan bahwa estimasi kematian tersebut merupakan perhitungan statistik populasi, bukan jumlah korban yang telah teridentifikasi secara individual. Jika tingkat bahaya asap diasumsikan tidak lebih tinggi dibandingkan partikel halus pada umumnya, perkiraan kematian dini turun menjadi sekitar 600 orang.
Laporan tersebut juga mencatat keterbatasan survei industri karena sebagian besar responden berasal dari kawasan Selangor dan Penang. Data dari Sarawak masih sangat terbatas sehingga hasil penelitian belum sepenuhnya menggambarkan kondisi industri Malaysia secara nasional.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
