World

Jerman dan Prancis Siagakan Puluhan Ribu Personel Jelang Demo Halloween

Jerman dan Prancis meningkatkan pengamanan menjelang demonstrasi yang diperkirakan berlangsung bertepatan dengan perayaan Halloween pada akhir pekan ini. Kedua negara mengerahkan personel kepolisian tambahan untuk mengantisipasi bentrokan, penjarahan, hingga gangguan ketertiban umum.

Di Jerman, sekitar 150.000 orang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti demonstrasi di sekitar 30 kota pada Sabtu (31/10/2026). Sejumlah kota yang menjadi lokasi aksi antara lain Berlin, Frankfurt, dan Cologne.

Kepolisian Jerman berencana mengerahkan ribuan personel tambahan untuk mengamankan jalannya demonstrasi. Sejumlah toko perhiasan mewah dan pakaian juga memasang papan pelindung pada jendela guna mengantisipasi penjarahan maupun aksi kekerasan.

Aksi tersebut dipimpin kelompok anak muda bernama GenZ regelt!, yang menyuarakan tuntutan terkait kenaikan biaya hidup, buruknya kondisi fasilitas pendidikan, serta pemangkasan anggaran pemerintah. Mereka juga mempersoalkan kebijakan politik yang dinilai kurang mempertimbangkan kepentingan generasi muda.

Sementara itu, Prancis menyiapkan 70.000 personel kepolisian di seluruh negeri untuk menghadapi potensi kerusuhan selama demonstrasi. Pengamanan juga mencakup penutupan lebih dari 40 stasiun metro di Paris saat aksi berlangsung.

Otoritas Prancis turut melarang penggunaan masker yang menutupi wajah selama demonstrasi. Kebijakan tersebut diberlakukan di tengah kekhawatiran bahwa penyamaran dapat mempersulit identifikasi pelaku kekerasan.

Kekhawatiran keamanan meningkat setelah Prancis mengalami tiga pekan berturut-turut aksi protes yang dipimpin kelompok anak muda. Dua pekan sebelumnya, demonstrasi yang menentang tingginya biaya hidup dan buruknya kondisi sekolah berujung pada penjarahan serta kerusuhan di sejumlah kota.

Presiden Kamar Dagang Prancis Alain Di Crescenzo mengatakan para pelaku usaha mengkhawatirkan situasi keamanan menjelang akhir pekan. Menurutnya, perayaan Halloween turut memperumit keadaan karena banyak orang akan mengenakan topeng.

Gelombang demonstrasi yang dipimpin anak muda dalam beberapa pekan terakhir juga terjadi di sejumlah negara Eropa. Aksi tersebut umumnya membawa tuntutan mengenai biaya hidup, fasilitas pendidikan, dan terbatasnya prospek masa depan generasi muda.

Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...