Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengukuhkan dua pelajar SMA sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026 di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (2/11/2026). Program ini menjadi upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melibatkan generasi muda dalam menangkal penyebaran informasi palsu di ruang digital.
Pramono mengatakan, program tersebut melengkapi layanan Jala Hoaks yang sebelumnya telah dimiliki Pemprov DKI Jakarta. Melalui keterlibatan pelajar, pemerintah berharap upaya memerangi hoaks dapat menjangkau lingkungan sekolah dan masyarakat secara lebih luas.
“Walaupun Pemda DKI Jakarta sendiri sudah mempunyai Jala Hoaks, tetapi menganggap perlu untuk mengadakan acara Duta Antihoaks ini dengan harapan bahwa keterlibatan terutama anak-anak SMA untuk mulai berkontribusi antihoaks di Jakarta ini menjadi hal yang baik,” ujar Pramono.
Pramono pun menyambut baik hadirnya program antihoaks yang melibatkan para pelajar sebagai garda terdepan. Menurutnya, persoalan hoaks merupakan tantangan yang dihadapi oleh seluruh dunia. Karena itu, peran aktif generasi muda yang berpikir kritis sangat diperlukan untuk memberantas permasalahan ini.
“Acara pemberian Duta Anti Hoaks ini harapannya adalah makin melibatkan anak-anak muda untuk berpikir kritis terhadap apa yang terjadi sebenarnya,” katanya.
Dua pelajar yang terpilih sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026 adalah Winda dari SMAN 68 Jakarta dan Muhammad Ibrahim Gumay dari SMAN 71 Jakarta.
Sebagai bentuk apresiasi, Pramono juga memberikan kesempatan kepada kedua Duta Antihoaks Jakarta 2026 untuk berangkat ke luar negeri. Keduanya diharapkan dapat mempelajari secara langsung upaya penanganan hoaks.
Pramono menyebut, Jakarta memiliki Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) tertinggi secara nasional yang mencapai 56,97. Meski demikian, tantangan penyebaran hoaks masih masif di Jakarta. Karena itu dibutuhkan upaya bersama untuk memerangi penyebaran hoaks di Jakarta.
“Dan yang paling penting adalah saudara-saudara di ruangan ini semuanya sudah melalui proses panjang, menjadi orang yang diberikan tanggung jawab untuk memerangi hoaks bersama-sama,” ucapnya.
Pemprov DKI Jakarta sendiri berkomitmen untuk selalu terbuka dan transparan terhadap penyelenggaraan program dan penggunaan anggaran. Langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus menghindari adanya disinformasi terkait penyelenggaraan pemerintahan.
“Setiap sen rupiah yang dibayarkan berupa pajak juga dipertanggungjawabkan kepada publik. Ini adalah bagian transparansi yang perlu dilakukan dengan demikian gak ada abu-abunya sama sekali,” ujarnya.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi menyampaikan, program Duta Antihoaks Jakarta Tahun 2026 merupakan pertama kalinya diselenggarakan oleh Pemprov DKI.
Hal tersebut sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung agar melakukan keterbukaan informasi guna memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
“Dan ini salah satunya dengan cara kita memastikan bahwa Jakarta memiliki ability untuk mengkurasi hoaks-hoaks yang terjadi,” lanjut Marulina.
Ia menjelaskan, transformasi digital tidak hanya mengubah cara pemerintah memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi.
“Tantangannya adalah memastikan bahwa kemudahan akses terhadap informasi juga diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memeriksa kebenaran, membedakan fakta dari hoaks dan disinformasi,” tuturnya.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis karena memiliki banyak akses ruang digital. Para anak-anak muda bukan hanya konsumen informasi, tetapi juga produsen konten, pembentuk opini, dan penggerak komunikasi di lingkungan pergaulannya.
“Dan melalui program Duta Anti Hoaks ini, Pemprov DKI ingin menempatkan generasi muda bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan perilaku digital masyarakat,” ucap Marulina.
Sebanyak 356 siswa dari 119 SMA Negeri di Jakarta tercatat mendaftar Program Duta Anti Hoaks Tahun 2026. Kemudian dilakukan seleksi secara bertahap hingga terpilih 10 finalis utama dan dua di antaranya dipilih menjadi Duta Antihoaks.
Duta Antihoaks memiliki sejumlah tugas untuk mengkampanyekan dan mengedukasi literasi digital dan budaya cek fakta melalui sekolah, komunitas, ruang publik, serta kanal digital.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi
