Pasukan Israel telah ditarik dari Hebron dan sejumlah kawasan yang sebelumnya dikepung di Tepi Barat yang diduduki, Senin (2/11). Penarikan tersebut mengakhiri operasi militer selama 10 hari yang menyebabkan ratusan keluarga Palestina kehilangan tempat tinggal dan membatasi akses warga terhadap bantuan kemanusiaan.
Gubernur Hebron Khaled Dudin mengumumkan bahwa pasukan Israel telah meninggalkan kota tersebut dan keluarga yang terpaksa mengungsi kini dapat kembali ke rumah mereka. Menurut laporan Al Jazeera, otoritas Palestina dan aparat keamanan setempat sedang memantau situasi serta menyiapkan kondisi agar warga dapat kembali dengan aman.
Operasi militer itu dimulai pada Jumat (23/10), setelah serangan penembakan yang menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya di dekat Hebron. Militer Israel menyatakan dua warga Palestina yang diduga melakukan serangan tersebut kemudian tewas.
Pada Jumat (30/10), pasukan Israel menghancurkan rumah kedua terduga pelaku. Al Jazeera melaporkan, rumah-rumah tersebut dihancurkan setelah militer melakukan persiapan selama berjam-jam. Penghancuran itu berlangsung di tengah operasi yang mencakup penutupan wilayah, penggerebekan, penahanan warga, serta pembongkaran sejumlah bangunan.
Menurut data Pemerintah Hebron yang dikutip Al Jazeera, operasi tersebut telah menyebabkan 4.969 warga Palestina dari 780 keluarga mengungsi hingga 27 Oktober. Anadolu Agency juga melaporkan bahwa penutupan wilayah dan operasi militer berdampak pada kegiatan pendidikan, dengan puluhan sekolah mengalami gangguan.
Setelah pasukan Israel mundur, tim pertahanan sipil dan otoritas setempat mulai memeriksa lokasi rumah yang dihancurkan. Area tersebut dipasangi pembatas untuk memastikan ledakan tidak menyebabkan kerusakan tambahan pada bangunan di sekitarnya.
Operasi tersebut sebelumnya menuai kritik dari pejabat Palestina dan kelompok hak asasi manusia. Mereka menilai tindakan militer Israel telah berdampak luas terhadap warga yang tidak terlibat dalam serangan. Sementara itu, militer Israel menyatakan operasi dilakukan atas alasan keamanan untuk mencegah serangan lebih lanjut.
Penarikan pasukan mengakhiri pengepungan, tetapi belum menjawab pertanyaan mengenai tujuan keamanan yang dicapai melalui operasi tersebut maupun alasan pembatasan pergerakan warga selama 10 hari. Ribuan warga kini menghadapi proses kembali ke rumah dan pemulihan setelah kehilangan tempat tinggal, akses layanan, serta aktivitas sehari-hari.
Akbari Danico – Redaksi
