Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar USD 10,61 miliar selama periode Januari hingga September 2026.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia tetap kuat dan mampu mencatatkan surplus di tengah ketidakpastian ekonomi global yang berlangsung sejak awal tahun.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan surplus tersebut diraih karena nilai ekspor Indonesia lebih besar daripada impornya.
Selama Januari hingga September 2026, Indonesia secara kumulatif membukukan ekspor sebesar USD 221,23 miliar. Sementara itu, pada periode yang sama, total impor Indonesia tercatat sebesar USD 210,63 miliar.
“Hingga bulan September tahun 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar USD 10,61 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11).
Secara rinci, Ateng mengatakan ekspor Indonesia hingga kuartal III 2026 terutama ditopang oleh industri pengolahan dengan nilai USD 182,83 miliar, atau hampir 83 persen dari total ekspor. Nilai tersebut juga tumbuh 8,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni sebesar USD 167,84 miliar.
Kinerja industri pengolahan Indonesia juga tercermin dari komposisi impor selama Januari hingga September 2026.
Ateng mengatakan sebagian besar impor Indonesia pada periode tersebut terdiri atas bahan baku/penolong dan barang modal, dengan nilai masing-masing sebesar USD 150,57 miliar dan USD 41,55 miliar. Jika digabungkan, kedua kelompok barang tersebut mencakup sekitar 91 persen dari total nilai impor.
Adapun tiga komoditas utama nonmigas yang diimpor Indonesia selama periode tersebut adalah mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik.
“Pada Januari hingga September tahun 2026, nilai impor ketiganya memberikan share sekitar 37,95 persen terhadap total impor nonmigas,” tutur dia.
Lebih lanjut, Ateng merinci negara-negara mitra dagang yang memberikan kontribusi surplus terbesar bagi Indonesia hingga kuartal III 2026.
Amerika Serikat (AS) menempati posisi pertama dengan surplus perdagangan mencapai USD 17,37 miliar. Capaian tersebut terjadi setelah nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai USD 25,39 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan nilai impornya yang sebesar USD 8,02 miliar.
Ateng menjelaskan bahwa surplus perdagangan pakaian, aksesori, dan alas kaki menjadi penyumbang utama surplus Indonesia terhadap AS.
India menempati posisi kedua dengan surplus neraca perdagangan sebesar USD 10,81 miliar. Sementara itu, Filipina berada di posisi ketiga dengan surplus perdagangan sebesar USD 6,25 miliar selama periode tersebut.
“Untuk India, surplus terbesar pada komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani, dan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya. Sedangkan penyumbang surplus Filipina terutama dari kendaraan dan bagiannya, bahan bakar mineral dan juga dari lemak dan minyak hewani nabati,” pungkas dia.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi
