Rencana membawa layanan kereta cepat Whoosh hingga Yogyakarta belum dapat dipastikan realisasinya. Pemerintah masih melakukan kajian, sementara PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) belum menerima penugasan untuk mengelola rute baru tersebut.
Manager Corporate Communication KCIC, Emir Monti, menyampaikan bahwa pembahasan mengenai perluasan jaringan Whoosh saat ini masih menjadi kewenangan pemerintah. KCIC baru akan terlibat dalam pengoperasian apabila nantinya memperoleh penugasan resmi.
Meski demikian, Emir menyatakan KCIC terbuka terhadap kemungkinan pengembangan rute tersebut. Perusahaan siap mengoperasikan layanan kereta cepat di rute lain apabila pemerintah memutuskan untuk melanjutkan rencana itu.
“Untuk kajiannya sendiri masih di tingkatan pemerintah, belum di level KCIC. Namun, jika nanti ada penugasan KCIC untuk mengoperasikan rute-rute lainnya, tentu kami siap,” kata Emir di Yogyakarta, Jumat (6/11/2026).
Di tengah wacana perluasan jalur, KCIC masih berfokus mengoptimalkan perjalanan Jakarta-Bandung. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai strategi, termasuk potongan harga tiket, kolaborasi dengan tempat wisata, serta penyediaan akses transportasi lanjutan bagi penumpang.
Emir mengungkapkan, sepanjang tiga tahun beroperasi, Whoosh telah mengangkut sekitar 18 juta penumpang. Layanan ini juga mulai digunakan untuk mendukung mobilitas pekerja yang beraktivitas di dua kota berbeda.
Menurutnya, perjalanan Jakarta-Bandung yang kini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit membuat perjalanan pulang-pergi dalam sehari menjadi lebih memungkinkan. Sejumlah penumpang bahkan berangkat dari Jakarta pada pagi hari untuk bekerja di Bandung dan kembali pada sore hari.
KCIC berharap pemanfaatan layanan untuk kebutuhan perjalanan harian dapat terus berkembang. Peningkatan jumlah pengguna dan konektivitas dengan moda transportasi lain juga menjadi perhatian perusahaan dalam mempertahankan operasional Whoosh.
Adapun rencana pembangunan jalur menuju Yogyakarta belum memiliki jadwal pelaksanaan. Keputusan mengenai kelanjutan proyek tersebut masih menunggu hasil kajian pemerintah.
Reinasya Mutiara Sringindari – Redaksi
