National

Instabilitas Emosi Masyarakat Indonesia Terus Memakan Korban Jiwa

Akhir-akhir ini, permasalahan mengenai stabilitas emosi pada masyarakat Indonesia terus berujung pada hilangnya nyawa seseorang. Beberapa waktu yang lalu, terjadi kasus “kecelakaan” di pintu Tol Cakung-Kelapa Gading. “Kecelakaan” yang berujung kematian pada korban. Tabrakan ini nyatanya didasari oleh cekcok yang terjadi antara pelaku dengan korban yang berujung pelaku menabrakan dan juga melindas korban.

Selain kasus di Cakung, pembunuhan pun terjadi di Mojokerto. Tidak terima ditagih iuran kelas, siswi SMP dibunuh dan diperkosa oleh teman sekelasnya.

Kecelakaan di Cakung

Rabu (14/6/2023) kasus pembunuhan terhadap pengendara motor bernama Moses Bagus Prakoso oleh sosok berinisial OS (26) tahun terjadi. Moses tewas ditabrak dengan brutal oleh pelaku yang ternyata adalah tetangga sendiri di Cakung 

Kanit Gakkum Satwil Lantas Polres Jakarta Timur Iptu Darwis Yunarta menjelaskan kronologi kejadian tersebut terjadi pada pukul 08.45 di pintu masuk Tol Cakung-Kelapa Gading.

Setelah diusut lebih lanjut, ternyata sebelumnya sudah ada cekcok yang terjadi antara korban Moses dan juga pelaku OS yang merupakan tetangga. Cekcok ini pun berujung pada tragedi penabrakan oleh OS di TKP. 

“Sesampainya dekat on ramp Tol Bekasi Raya wilayah Cakung, Jakarta Timur, telah mengalami kecelakaan lalu lintas menabrak kendaraan sepeda motor Honda PCX nopol B-5595-KCH yang berjalan dari arah yang sama,” kata Darwis dalam keterangannya, Kamis (15/6/2023).

Akibat dari kecelakaan tersebut, Moses pun harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka, mulai dari tulang rusuk, tangan kanan, sampai kiri mengalami patah tulang, dan pada akhirnya korban pun meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit. 

“Mengalami luka pada bagian perut memar, tulang rusuk kanan patah, pipi lecet, tangan kanan dan kiri patah dan meninggal dunia di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading,” ujarnya.

Pembunuhan di Mojokerto

Selain kasus kecelakaan akibat cekcok, terdapat kasus pembunuhan dan pemerkosaan terhadap siswa SMP di Mojokerto. 

Pembunuhan terjadi karena pelaku tidak terima ditagih iuran kelas di hadapan teman sekelasnya saat dirinya tertidur pulas di kelas. 

Adapun cara pembunuhan yang dilakukan adalah dengan cara dicekik. Menurut tim Forensik Biddokkes Polda Jatim,  ditemukan bekas kekerasan di tulang leher korban. korban ternyata dibunuh oleh teman sekelas dengan cara dicekik.

Dengan dibantu oleh temannya, pelaku membunuh korban dengan cara dicekik yang kemudian jasad korban dibuang di dalam parit di bawah rel kereta api di Desa Mojoranu Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. Motif pembunuhan adalah rasa sakit hati pelaku karena ditagih iuran kelas sebesar Rp40 ribu di depan teman sekelasnya.

Permasalahan Pengendalian Emosi

Dari dua tragedi yang terjadi dalam kurun waktu seminggu ini, terdapat satu kesamaan. Kedua tragedi yang berujung pada kematian seseorang sama–sama disebabkan oleh tidak stabilnya emosi seseorang yang berujung kepada tindakan yang meregang nyawa seseorang.

Kasus kecelakaan di Cakung pasalnya terjadi karena sebelumnya terjadi cekcok antara pelaku dengan korban yang akhirnya berujung pada kematian korban akibat ditabrak oleh si pelaku.

Pun demikian dengan kasus pembunuhan di Mojokerto, diakibatkan rasa sakit hati karena ditagih iuran kelas, pelaku dengan teganya mencekik korban hingga meninggal dunia. 

Permasalahan stabilitas emosi seseoranglah yang akhirnya menjadi dasar atas tindakan pembunuhan dan juga penabrakan yang terjadi pada kasus-kasus yang telah disebutkan. Sehingga, menjadi pertanyaan besar terkait pengendalian emosi masyarakat Indonesia yang nyatanya jauh dari kata stabil, dengan bukti dua kasus yang telah disebutkan. 

 

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...