National

Usaha, Komitmen, dan Mimpi Menjadi Refleksi Anies, Ganjar, dan, Prabowo di Depan Cermin UGM

Selasa (19/09/2023) kemarin, tiga bakal calon presiden, Anies, Ganjar, dan Prabowo menghadiri acara yang diselenggarakan oleh ‘Mata Najwa’ dengan judul ‘Mata Najwa: 3 Bacapres Bicara Gagasan’ di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada. 

Terdapat momen menarik dalam acara tersebut, setelah memaparkan masing-masing gagasannya, ketiga bacapres diminta untuk merefleksikan diri mereka melalui sebuah cermin besar yang berada di Kampus UGM. 

Melalui cermin tersebut, ketiga bacapres ini memaparkan refleksi masing-masing dari mereka. Ada Anies yang merefleksikan dirinya dengan usaha yang tengah dilakukannya, Ganjar dengan komitmen untuk tidak korupsinya, dan tentunya Prabowo dengan mimpi besarnya untuk Indonesia. 

BACA JUGA: Apa yang Dijanjikan Ganjar, Prabowo, dan Anies-Cak Imin Apabila Memenangkan Pilpres 2024? 

Lebih lanjut, berikut isi refleksi dari ketiga bacapres pada acara yang diselenggarakan oleh Najwa Shihab:

Anies Baswedan

Isi refleksi dari Anies terasa cukup personal dan menggambarkan kedekatan nya bersama ibundanya. Anies yang memiliki hubungan yang cukup personal dengan kampus UGM menceritakan kisah pendidikannya dari SD sampai dengan kuliah. 

Dalam pesan refleksinya, Anies mengingat apa pesan ibunya dengan berkata, “Anies ingatlah apa yang dikatakan ibumu ketika mengantarkan mau masuk sekolah SD umur 7 tahun. Pada saat itu dipesankan agar kerja keras dan rajin. Ketika masuk kuliah ibumu pesan, Anies yang kita miliki cuma nama baik. Jaga nama itu baik-baik.”

Lebih lengkap, berikut isi dari refleksi Anies Baswedan:

Di tempat ini, di lapangan ini saya kelas 1 SD dan bermain sepak bola pertama kali di lapangan terbuka namanya lapangan STO. Pada waktu itu saya kelas 1 SD sekolahnya di Sekip (Kabupaten Sleman).

Pada tahun 1989 saya berada di lapangan Ini namanya lapangan Pancasila menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada, universitas yang saya impikan sejak SD ketika main di lapangan ini.

Tahun 1991 saya menjadi ketua panitia ospek untuk mahasiswa baru. Saat itu saya tahun kedua dan saya menyambut adik-adik mahasiswa baru yang kuliah di sini.

Tahun 1992, saya berbicara kepada adik-adik mahasiswa baru menyampaikan kepada mereka bagaimana menjadi mahasiswa di Gajah Mada saat itu saya ketua senat mahasiswa UGM.

Ganjar dan Komitmen 

Berbeda dengan Anies yang relatif menyampaikan refleksinya dengan cukup panjang, Ganjar Pranowo membeberkan refleksi dirinya dengan cukup padat. 

Dalam refleksinya tersebut, Ganjar menyinggung mengenai jabatan yang tidak perlu dikejar, namun apabila mendapatkan hal tersebut, harus dijalankan dengan kejujuran dan dengan tulus tanpa ada niat untuk berkorupsi.

Lebih lengkapnya, berikut refleksi dari Ganjar Pranowo:

Sesuatu yang tidak bisa saya lupakan adalah pesan kedua saya. Kalau soal jabatan, Jar, jangan pernah kamu kejar.

Kalau itu takdirmu, laksanakan dengan baik. Jangan pernah korupsi. Bismillahirrahmanirrahim.

Prabowo Subianto dan Mimpi untuk Indonesia

Berbeda dengan Anies dan Ganjar yang refleksinya fokus terhadap kehidupan dan keinginan personal. Prabowo yang memulai refleksi dirinya dengan menceritakan masa kecilnya yang hidup sebagai ‘minoritas’ di tengah masyarakat barat dengan tegas menyatakan mimpinya untuk Indonesia.

Berangkat dari pengalaman masa kecilnya yang dianggap remeh, dikucilkan, dan penuh akan diskriminasi. Prabowo menginginkan Indonesia di masa depan menjadi bangsa dan negara yang kuat dan mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

BACA JUGA: Diajak Debat oleh BEM UI: Anies dan Prabowo Gas, Ganjar Nggak Dulu 

Lebih lengkap, berikut refleksi dari Prabowo Subianto:

Saya ingat adik-adik. Saya lahir tahun 1951, kita baru satu tahun merdeka. Proklamasi tahun 1945, tapi penyerahan kedaulatan baru tahun 1950.

Karena pada 1949 kita harus perang, penjajah enggak mau pergi kita harus perang. Waktu itu saya umur 22 -24. Saya perwira di tentara, saya bawa anak buah saya berenang di kolam renang Manggarai.

Waktu berenang, saya lihat ada dinding dari marmer tapi tertutup oleh lumut. Saya suruh bersihkan lumut dan saya baca di situ ada tulisan ‘Honden en Inlander Verbodeen’.

Ya, artinya, anjing dan pribumi dilarang masuk kolam renang. Saya baca itu tahun 1975. Jadi, dulu kita dijajah, dibantai, diperbudak, dimiskinkan, dan dianggap lebih rendah dari anjing.

Anda minta saya refleksi, saya pernah hidup di tengah orang Eropa. Saya ingat, waktu itu saya satu-satunya murid yang bukan kulit putih, tiap hari saya diejek guru.

Setiap hari dibilang bangsa monyet, ini itu, ‘Prabowo your people live on trees’. Saya alami, saya sekolah di beberapa negara selalu mereka bilang begitu, rakyatmu tinggal di pohon, saya mengalami.

Jadi kalau anda minta saya refleksi, saya ingin melihat Indonesia menjadi negara bermartabat, terhormat sebelum meninggal. Saya ingin lihat tidak ada kemiskinan di republik Indonesia.

Saya ingin lihat anak-anak Indonesia kuat, gembira, senyum dan orang tuanya gembira. Itu yang mendorong saya.

Kalau Anda merefleksi saya, saya tidak mau bangsa saya dihina terus. Saya ingin bangsa saya terhormat berdikari.

Saya ingin melihat adik-adik saya semua nanti pake mobil, naik motor, pakai jam, pakai sabun, pakai parfum, dan pakai sepatu buatan Indonesia. Itu yang saya cita-citakan, terima kasih, selesai.(*/)

(RRY)

 

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...