National Pemilu

Selalu Menggunakan Gimik dalam Politik Sama Saja Menganggap Gen Z Bodoh

Salah satu hal yang paling menonjol dari kontestasi pilpres 2024 yang sebentar lagi akan berlangsung adalah gimik. Sekilas, bagi masyarakat tentunya gimik politik adalah suatu hal yang membosankan, dan cenderung merupakan ‘pembodohan’. Namun, jika melihat dari presentase jumlah pemilih di pilpres 2024, rasanya gimik politik yang dilakukan oleh ketiga paslon tentunya sangat dibutuhkan.

Ketika berbicara mengenai gimik, rasanya paslon nomor dua, yaitu Prabowo-Gibran cukup dikenal melalui gimik ‘gemoy.’ Selain gimik gemoy, berbagai gimik lain, mulai dari panggilan ‘Samsul’ yang disematkan ke Gibran, joget-joget TikTok, mahkamah kons, dan lain sebagainya menjadi bagian dari gimik politik paslon nomor 2. 

Akan tetapi, bukan berarti paslon lain seperti Anies-Muhaimin, ataupun Ganjar-Mahfud tidak menerapkan gimik politik pada kampanye mereka. Mau seorganik/senatural apa pun ‘K-Pop’ fiction milik Anies-Muhaimin dan tim ‘penguin’ Ganjar Mahfud, pada akhirnya apa yang dilakukan mereka tetaplah gimik politik yang tujuannya adalah menggaet suara Gen Z.

Gimik tentunya bukanlah hal yang terlarang dalam politik. Karena, pada dasarnya arti dari gimik sendiri adalah pemanfaatan kemasan, tampilan, alat tiruan, serangkaian adegan untuk mengelabuhi, memberikan kejutan, menciptakan suatu suasana, atau meyakinkan orang lain. Sehingga, pada akhirnya tujuan dari gimik sendiri adalah untuk meyakinkan para voters untuk memilih mereka. 

Akan tetapi, bukan berarti dalam kontestasi politik sebesar pemilihan presiden, semuanya harus melulu dilaksanakan dengan gimik. Pada akhirnya, gimik hanya menjadi bagian dari sebuah gagasan. Gimik tanpa gagasan, argumen, visi, dan misi tidak lebih dari candaan yang biasa disampaikan oleh pelawak. Pun dalam beberapa situasi, para pelawak pun tetap memasukan argumen dalam gimik yang mereka lakukan.

BACA JUGA: Anies Janjikan Cuti 40 Hari untuk Suami yang Istrinya Melahirkan

Gen Z Bukan Tentang Gimik

Memang bicara tentang anak muda, maka gimik rasanya menjadi salah satu strategi yang menarik untuk diterapkan. Namun, apakah Gen Z Indonesia sedangkal itu? Pada akhirnya, gimik politik bagi Gen Z hanyalah ‘pelumas’ untuk mereka menentukan pilihan. Pada akhirnya, alasan terbesar Gen Z memilih sosok paslon adalah gagasan, visi misi, dan rekam jejak setiap paslon. 

Ketika akhirnya para paslon selalu menggunakan gimik hanya untuk mendapatkan suara Gen Z. Secara langsung, para paslon menganggap generasi muda Indonesia adalah generasi yang dapat ‘dibodohi’ dan tidak peduli pada gagasan. Tentunya, hal ini menjadi kesalahan besar, karena Gen Z pun tentunya memiliki keresahan, permasalahan, dan keinginan yang jauh lebih besar yang dapat diselesaikan melalui gagasan, dan kebijakan, bukan sekadar gimik dalam bentuk candaan.

Ketika paslon bisa mengelaborasi gimik dengan gagasan, tentunya Gen Z Indonesia dapat lebih paham dan mengenal para paslon. Para Gen Z dapat mengenal paslon sebagai sosok yang asyik, dan erat dengan mereka melalui gimik yang dilakukan, dan di sisi lain para Gen Z tetap dapat memahami gagasan, rencana ke depan para paslon melalui gagasan, visi, dan misi yang disampaikan. Sehingga, hubungan yang terjalin pun lebih natural dan tidak ada keterpaksaan. 

BACA JUGA: Kompak Mengundurkan Diri, Anggota KPPS di Kota Blitar Tetap Dilantik KPU

Gimik Hanya Bumbu 

Pada akhirnya, gimik sama seperti bumbu penyedap pada masakan. Pada dasarnya, yang membuat sebuah masakan enak tentunya bahan utamanya, yaitu daging, sayur-sayuran, dan lainnya. Namun, apabila bahan utama tersebut diberikan bumbu penyedap, tentunya masakan yang dihidangkan akan jauh lebih nikmat.

Sama seperti masakan, gimik pada pilpres pun hanyalah ‘penyedap’ dalam sebuah kontestasi pemilihan presiden. Pada dasarnya, gagasan, argumentasi, dan visi misi setiap kandidat merupakan bahan utamanya. Gimik, hanyalah ‘penyedap rasa’ dalam sebuah kontesasi pemilihan. 

Ketika sebuah masakan kekurangan bahan utama, tentunya masakan tersebut akan terus terasa hambar. Pun apabila sebuah masakan terlalu banyak bumbu penyedapnya, kita cenderung menganggap masakan tersebut ‘keasinan’ dan enggan untuk memakan masakan tersebut. (*/)

(RRY)

 

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...