National

Bukan Pindah ke IKN, Perbaikan Transportasi Massal jadi Salah Satu Solusi Perbaikan Kualitas Udara di Jakarta

Belakangan ini, kondisi kualitas udara di Jakarta berada di ambang yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Air Quality Index (AQI) pada hari Senin (07/08/2023) kualitas udara untuk wilayah DKI Jakarta berada dalam kategori tidak sehat.

Lebih tepatnya, kondisi kualitas udara di Jakarta berada di angka 168 dengan konsentrasi parameter PM 2.5. Dimana, kualitas udara dengan PM 2.5 ini 17.7 kali dari nilai panduan kualitas udara tahunan WHO. 

BACA JUGA: Kualitas Udara Kian Memburuk, Greenpeace Ingatkan Pemerintah untuk Mengeluarkan Peringatan Kepada Masyarakat 

Mengenai memburuknya kualitas udara di Jakarta, Presiden Joko Widodo mengamini permasalahan tersebut. Presiden Jokowi mengakui jika buruknya kualitas udara di Jakarta sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu. 

“Ya polusi itu, tidak hanya hari ini, sudah bertahun tahun kita alami di Ibu Kota DKI Jakarta. Ini bertahun-tahun kita alami,” kata Jokowi di Indonesia Arena, kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Senin (7/8/2023).

Namun, solusi yang diberikan Presiden Jokowi bisa dibilang tidak menjawab persoalan yang kini dihadapi oleh DKI Jakarta. Menurutnya, salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas udara adalah dengan pindah ke IKN. 

“Dan salah satu solusinya adalah mengurangi beban Jakarta sehingga sebagian nanti digeser ke Ibu Kota Nusantara,” ujarnya.

Meskipun pada awalnya cukup membingungkan, namun nyatanya Presiden Jokowi pun menekankan penggunaan transportasi massal sebagai langkah untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

Penggunaan Transportasi Massal

Sepakat dengan Presiden Jokowi, transportasi massal pada dasarnya merupakan salah satu solusi terbaik untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta. 

Nyatanya asap kendaraan bermotor maupun mobil menjadi salah satu penyebab memburuknya kualitas udara di Jakarta. Jakarta yang merupakan pusat industri tentunya menjadi kawasan paling ramai oleh para pekerja. Sayangnya, banyak pekerja di Jakarta yang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil, dibandingkan kendaraan transportasi massal.

Padahal, penggunaan transportasi massal tentunya menjadi solusi dari perbaikan kualitas udara di Jakarta. Namun, tentunya jika ingin membuat masyarakat Jakarta untuk pindah menggunakan transportasi massal, tentunya dibutuhkan perbaikan dari segi sistem maupun fasilitas yang ada di transportasi massal tersebut.

Perbaikan Transportasi Massal

Salah satu kunci transisi penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi massal adalah adanya perbaikan pada seluruh lapisan transportasi massal. Mulai dari sistem, fasilitas penunjang, dan berbagai utilitas lainnya.

Tentunya, salah satu persoalan yang akhirnya membuat banyak masyarakat Jakarta memilih menggunakan kendaraan pribadi adalah masalah kenyamanan. Apabila transportasi massal tidak dapat memberikan kenyamanan tersebut, tentunya masyarakat akan cenderung memilih menggunakan kendaraan pribadi yang nyaman untuk mereka.

BACA JUGA: Bukan Pembagian Jam Masuk Kerja, Dua Hal Ini Dapat Menjadi Solusi untuk Mengurai Kemacetan Jakarta 

Selain itu, seringkali transportasi massal seperti KRL, atau Transjakarta telat datang. Hal ini tentunya harus diperbaiki secara sistem. Bagaimana caranya, agar transportasi massal ini dapat datang tepat waktu tanpa adanya keterlambatan.

Kemudian, transportasi massal pun harus saling terintegrasi. Karena percuma jika turun dari stasiun kemudian dilanjutkan dengan kendaraan pribadi. Pada dasarnya, seluruh transportasi massal harus terintegrasi untuk memudahkan masyarakat untuk commute menggunakan transportasi massal. Hal ini sudah diterapkan untuk LRT, BRT, dan MRT. Sehingga setidaknya, sudah ada sistem commute yang terintegrasi di Jakarta meskipun belum mencakup seluruh kawasan.

(RRY)

×

 

Hello!

Click one of our contacts below to chat on WhatsApp

× hey MOST...